PAGAR NUSA

 PAGAR NUSA

Seni Bela Diri Nahdlotul Ulama' (NU)

___________



KATA KATA HIKMAH ⚜ ~ Bagi orang yang awam dengan pencak silat atau yang belum melihat apa itu pagar nusa pasti akan bertanya-tanya dalam benaknya, apa itu pagar nusa? Organisasi apakah itu?


Pagar nusa adalah salah satu wadah yang sah bagi organisasi pencak silat di lingkungan Nahdlatul Ulama '(NU) berdasarkan keputusan muktamar. Organisasi iniberstatus lembaga milik Nahdlatul Ulama '(NU) yang penyelenggaraannya dan pertanggungjawabannya sama seperti lembaga-lembaga Nahdlatul Ulama' lainnya. Nama lengkap organisasi ini adalah Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama 'Pagar Nusa dapat disingkat IPSNU Pagar Nusa. Status resmi kelembagaan inilah yang menjadikan pagar nusa wajib untuk dilestarikan dan dikembangkan oleh seluruh warga NU dengan mengecualikan pencak silat dan beladiri lainnya. Segala kegiatan yang berhubungan dengan pencak silat dan beladiri dengan segala aspeknya dari fisik sampai mental, dari pendidikan sampai sistem pengamanan dan lain-lain merupakan bidang garapan lembaga ini.


Sebagai organisasi, pagar nusa pastinya memiliki visi dan misi agar dapat menjalankan rumah tangganya dengan baik dan terarah. Visi dan misi pagar nusa ber-aqidah ala ahlusunnah wal jama'ah dengan sebagai organisasi pancasila. Pagar nusa mengusahakan:


1. Berlakunya ajaran Islam berhaluan ahlusunnah wal jama'ah di tengah-tengah kehidupan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang ber-pancasila.


2. Pelestarian, pembinaan dan pengembangan pencak silat baik beladiri, seni, mental spiritual maupun olahraga / kesehatan, khususnya di lingkungan NU maupun di lingkungan warga bangsa lain pada umumnya.


Setelah pengertian pada pagar nusa tersebut, alangkah berjalan baik-baik saja, lihat juga pada pengertian organisasi mana yang menjadi dasar pagar nusa sendiri sebagai suatu organisasi yang terstruktur dalam lembaga otonom Nahdlatul Ulama '.


Pengertian organisasi umum adalah tempat atau wadah dimana orang-orang berkumpul, bekerja sama secara rasional dan sistematis, terencana, terorganisir, terpimpin dan terkendali yang digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan bersama. Menurut Richard T. Schaefer, organisasi adalah sebuah kelompok yang bentuknya sesuai khusus dan disusun untuk efisiensi maksimal. Organisasi sendiri dalam ilmu-ilmu sosial, terutama sosiologi, ekonomi, ilmu politik, psikologi dan manajemen. Kajian mengenai organisasi organisasi disebut organisasi.


Dari sitiran organisasi tersebut dapat kita tarik sebuah sitem sitem untuk menentukan sendiri, bahwasannya pagar nusa adalah sebuah organisasi yang Islami, organisasi pencak silat yang menghasilkan pesilat-pesilat yang Islami dan menjunjung tinggi ajaran ahlusunnah wal jama'ah. Bisa diberikan akar bahwasannya organisasi yang Islami sangat penting melatih orang lain dan bekerja sama melalui sebuah kelompok, bermanfaat sebagai tempat menanamkan aqidah dan akhlak yang Islami di setiap kegiatan-kegiatan organisasi Islami tersebut.



Pagar Nusa. Dalam artikel ini akan saya beri tahu arti lambang Pagar Nusa secara ringkas, singkat, padat dan insyaallah jelas. Baik kita mulai dari luar ke dalam :

 Bentuk Lambang (Segi Lima) Mengartikan Rukun Islam, Rukun Islam ada 5 yaitu Syahadat, Sholat, Zakat, Puasa, Haji (SSZPH).


Tiga Garis Putih


Artinya adalah Islam, Iman, dan Ikhsan. Maksudnya adalah · Islam : Semua Pendekar Pagar Nusa Beragama Islam. · Iman : Semua Pendekar Pagar Nusa Beriman kepada Alloh SWT. · Ikhsan : Menjauhi Larangan dan menuruti perintah-Nya (Alloh SWT). 


Tulisan “LEMBAGA PENCAK SILAT NU PAGAR NUSA” Artinya adalah, bahwa organisasi yang kita ikuti adalah pencak silat Pagar Nusa yang berada di bawah naungan NU.


Sembilan Bintang dengan Satu Bintang Besar. Artinya kita memiliki Wali yang berjumlah Sembilan. Dan Satu Bintang Besar Mengartikan derajat para Wali yang lebih tinggi, yang memiliki Motto “Diatas Langit Masih Ada Langit”.


Bola Dunia Menandakan Bahwa Pendekar Pagar Nusa berada di dunia.


Pita Bertuliskan “ La Gholiba Ila Billah “ Itu adalah Motto Pendekar Pagar Nusa yang berarti “Tiada Kemenangan Tanpa Bantuan/Pertolongan dari Alloh”.


Trisula Adalah Senjata tertua di nusantara, tapi ada juga yang mengartikannya Senjata Terkeramat milik Wali Songo.


Warna Hijau dan Putih 

Warna Hijau bermakna kesuburan dan Warna Putih bermakna suci.



SEJARAH PAGAR NUSA


Pada lambang Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa tertulis Laa ghaaliba Illa billah yang melingkar di bola bumi, terletak di bawah trisula. Lafaz itu diusulkan KH Suharbillah, seorang pendekar silat dan salah seorang pendiri Pagar Nusa. Mulanya adalah kalimat tersebut adalah la ghaliba illallah, kemudian KH Sansuri Badhawi mengusulkan untuk menggantinya dengan la ghaliba illa billah. Kalimat tersebut yang digunakan pada lamabang Pagar Nusa hingga sekarang. Artinya semakna dengan la haula wa la quwwata illa billah.  Menurut Kiai Suharbillah lafadz tersebut, Pagar Nusa ingin kejayaan Islam di Cordova, Spanyol, tumbuh di Indonesia. juga sangat cocok semboyan sebuah perhimpunan bela diri supaya para anggotanya tidak takabur. Sebab dengan lafadz tersebut, pendekar berpegang teguh bahwa tidak ada yang mengalahkan seseorang, kecuali hanya karena Allah. Dengan slogan itu, pendekar tidak over dosis bertujuan untuk kemenangan, di atas langit ada langit. Ketua Umum Pagar Nusa 2012-2017 KH Aizzudin Abdurrahman menafsirkan lafadz tersebut sebagai tingkat kepasrahan tertinggi seseorang. Meskipun seseorang sakti, tapi tidak boleh merasa sakti. Termasuk kepada musuh kita. Meskipun dia terlihat sakti, tapi ketika tidak dilindungi Allah, dia tidak akan berarti apa-apa.  Menurut Gus Aiz, ada slogan lain yang sering diungkapkan pendiri dan mahaguru beladiri Pagar Nusa yaitu KH Maksum Jauhari, seorang pendekar pilih tanding Pagar Nusa, yaitu “Pantang menantang walau kepada lawan, pantang mundur kalau ditantang. Sebetulnya, slogan tersebut tak jauh dengan laa ghaaliba illa billah.



Kisah singkat GUS MAKSUM

Sang Pendekar Pagar Nusa


Pondok Pesantren dulunya tidak hanya mengajarkan ilmu agama dalam pengertian formal-akademis seperti sekarang ini, semisal ilmu tafsir, fikih, tasawuf, nahwu-shorof, sejarah Islam dan seterusnya. Pondok pesantren juga berfungsi sebagai padepokan, tempat para santri belajar ilmu kanuragan dan kebatinan agar kelak menjadi pendakwah yang tangguh, tegar dan tahan uji. Para kiainya tidak hanya alim tetapi juga sakti. Para kiai dulu adalah pendekar pilih tanding.


Akan tetapi belakangan ada tanda-tanda surutnya ilmu bela diri di pesantren. Berkembangnya sistem klasikal dengan materi yang padat, ditambah eforia pembentukan standar pendidikan nasional membuat definisi pesantren kian menyempit, melulu sebagai lembaga pendidikan formal.

Para ulama-pendekar merasa gelisah. H Suharbillah, seorang pendekar dari Surabaya yang gemar berorganisasi menemui KH Mustofa Bisri dari Rembang dan menceritakan kekhawatiran para pendekar. Mereka lalu bertemu dengan KH Agus Maksum Jauhari Lirboyo alias Gus Maksum yang memang sudah masyhur di bidang beladiri. Nama Gus Maksum memang selalu identik dengan “dunia persilatan”.


Pada tanggal 12 Muharrom 1406 M bertepatan tanggal 27 September 1985 berkumpulah mereka di pondok pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur, untuk membentuk suatu wadah di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) yang khusus mengurus pencak silat. Musyawarah tersebut dihadiri tokoh-tokoh pencak silat dari daerah Jombang, Ponorogo, Pasuruan, Nganjuk, Kediri, serta Cirebon, bahkan dari pulau Kalimantan pun datang.


Musyawarah berikutnya diadakan pada tanggal 3 Januari 1986, di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur, tempat berdiam Sang Pendekar, Gus Maksum. Dalam musyawarah tersebut disepakati pembentukan organisasi pencak silat NU bernama Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama “Pagar Nusa” yang merupakan kepanjangan dari “Pagarnya NU dan Bangsa.” Kontan para musyawirin pun menunjuk Gus Maksum sebagai ketua umumnya. Pengukuhan Gus Maksum sebagai ketua umum Pagar Nusa itu dilakukan oleh Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid dan Rais Aam KH Ahmad Sidiq.


Gus Maksum lahir di Kanigoro, Kras, Kediri, pada tanggal 8 Agustus 1944, salah seorang cucu pendiri Pondok Pesantren Lirboyo KH Manaf Abdul Karim. Semasa kecil ia belajar kepada orang tuanya KH Abdullah Jauhari di Kanigoro. Ia menempuh pendidikan di SD Kanigoro (1957) lalu melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Lirboyo, namun tidak sampai tamat. Selebihnya, ia lebih senang mengembara ke berbagai daerah untuk berguru ilmu silat, tenaga dalam, pengobatan dan kejadukan (Dalam “Antologi NU” terbitan LTN-Khalista Surabaya).


Sebagai seorang kiai, Gus Maksum berprilaku nyeleneh menurut adat kebiasaan orang pesantren. Penampilannya nyentrik. Dia berambut gondrong, jengot dan kumis lebat, kain sarungnya hampir mendekati lutut, selalu memakai bakiak. Lalu, seperti kebiasaan orang-orang “jadug” di pesantren, Gus Maksum tidak pernah makan nasi alias ngerowot. Uniknya lagi, dia suka memelihara binatang yang tidak umum. Hingga masa tuanya Gus Maksum memelihara beberapa jenis binatang seperti berbagai jenis ular dan unggas, buaya, kera, orangutan dan sejenisnya.


Dikalangan masyarakat umum, Gus Maksum dikenal sakti mandaraguna. Rambutnya tak mempan dipotong (konon hanya ibundanya yang bisa mencukur rambut Gus Maksum), mulutnya bisa menyemburkan api, punya kekuatan tenaga dalam luar biasa dan mampu mengangkat beban seberat apapun, mampu menaklukkan jin, kebal senjata tajam, tak mempan disantet, dan seterusnya. Di setiap medan laga (dalam dunia persilatan juga dikenal istilah sabung) tak ada yang mungkin berani berhadapan dengan Gus Maksum, dan kehadirannya membuat para pendekar aliran hitam gelagapan. Kharisma Gus Maksum cukup untuk membangkitkan semangat pengembangan ilmu kanuragan di pesantren melalui Pagar Nusa.



Sebagai jenderal utama “pagar NU dan pagar bangsa” Gus Maksum selalu sejalur dengan garis politik Nahdlatul Ulama, namun dia tak pernah terlibat politik praktis, tak kenal dualisme atau dwifungsi. Saat kondisi politik memaksa warga NU berkonfrontasi dengan PKI Gus Maksum menjadi komandan penumpasan PKI beserta antek-anteknya di wilayah Jawa Timur, terutama karesidenan Kediri. Ketika NU bergabung ke dalam PPP maupun ketika PBNU mendeklarasikan PKB, Gus Maksum selalu menjadi jurkam nasional yang menggetarkan podium. Namun dirinya tidak pernah mau menduduki jabatan legislatif ataupun eksekutif. Pendekar ya pendekar! Gus Maksum wafat di Kanigoro pada 21 Januari 2003 lalu dan dimakamkan di pemakaman keluarga Pesantren Lirboyo dengan meninggalkan semangat dan keberanian yang luar biasa. Lahul Fatihah

Semoga bermanfaat.

Baca juga : NAHDLATUL ULAMA' ( NU ) ,  KH.M.HASYIM ASY'ARI , GERAKAN PEMUDA ANSOR ( GP ANSOR ) , PAGAR NUSA , SEJARAH NAHDLATUL ULAMA  ,  Nama Lembaga dan Badan Otonom (Banom) di Nahdlatul Ulama , 

Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

2 Responses to "PAGAR NUSA"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel