AL-HIKMAH DALAM AL-QUR'AN

AL-HIKMAH DALAM AL-QUR'AN
ⒶⓁ ⒽⒾⓀⓂⒶⒽ


A. Al-Hikmah dalam al-Qur'an menurut Ulama Tafsir  

Lafal  ( الحكمة) tersebut mempunyai beberapa pengertian yang penjelasannya adalah sebagai berikut : Para penafsir banyak berbeda pendapat dalam menafsirkan ayat-ayat yang mengandung al-Hikmah. Sebagaimana disebutkan oleh ar-Razi, dalam tafsir al-Kabir mengatakan : Tafsir al-Hikmah dalam al-qu’ran ada 4 pengertian, yaitu :  

1. Ajaran-ajaran al-Qur'an, sebagaimana disebutkan dalam surat al-Baqarah ayat 231:

…وَاذْآُُرُوا نِعْمََةَ الَّ لِهِ عَلَيكُْمْ وََمَا أَنْزََلَ عَلَيْكُْمْ مَِنَ الْكِتَاِبِ وَالْحِكْمَِةِ يَعِظُكُْمْ بِِهِ … 

“Dan ingatlah nikmat Allah kepadamu yaitu al-Qur'an dan al-Hikmah. Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkannya itu”. (QS. Al-Baqarah : 231)  

Hal serupa disebutkan dalam surat ali Imran ayat 48 :

  وَيُعِّ ََلمُُهُ الْكِتَاَبَ وَالْحِكْمََةَ َوَالتَّ وْرَاَةَ وَالْإِنجِيَلَ(48)

2. Hikmah berarti faham dan mengerti (pemahaman dan pengetahuan). Hikmah yang mengandung pengertian ini diantaranya adalah seperti yang disebutkan dalam surat Luqman ayat 12 :  

وَلَقَْدْ ءَاتَيَْنَا لقْمَاَنَ الْحِكْمََةَ أَِنِ اشْكُْرْ ِلَِّ لِهِ وَمَْنْ يَشْكُْرْ فَِإِنَّ َمَا يَشكُُرُ لِنَفْسِِهِ وَمَْنْ آَفََرَ فَِإنَّ  الَّ لهَ غَِنيٌّ  حَمِيٌدٌ(12)

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".” (QS. Luqman : 12)  

 

3. Hikmah berarti keNabian. Sebagaimana yang tercantum dalam surat an-Nisa’  

ayat 54 :  

أَْمْ يحْسُدُوَنَ النَّ اَسَ عَلََى َمَا ءَاتَاهُُمُ الَّ لُهُ مِْنْ فَضْلِِهِ فَقَْدْ ءَاتَيَْنَا ءَاَلَ إِبْرَاهِيَمَ الْكِتَاَبَ وَالْحِكمََةَ وءَاتينَاهُْمْ مُلًْكًا عَظِيًمًا(54)

“Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar.” (QS. An-Nisa’ : 54)  

 

Surat as-Shad ayat 20 : 

 وَشَدَدَْنَا مُلْكَُهُ وَءَاتَيْنَاُهُ الْحِكْمََةَ وَفَصَْلَ اْلْخِطَاِبِ(20)

“Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan.” (QS. As-Shad : 20)  

Juga dalam surah al-Baqarah ayat 251 :  

وءَاتَاُهُ الَّ لُهُ الْمُلَْكَ وَالْحِكْمََةَ

“Kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) kekuasaan dan hikmah 

(keNabian dan kitab Zabur)” (QS. Al-Baqarah : 251)  

 

4. Hikmah berarti al-Qur'an dengan berbagai rahasianya yang menakjubkan. 

Seperti yang diebutkan dalam surah an-Nahl ayat 125 :  

ادُْعُ إَِلَى سَبِيلِ َرَبِّ  َكَ بِالحِكْمَِةِ

“Serulah (Manusia) kepada jalan tuhanmu dengan al-Hikmah”  

Dan dalam surah al-Baqarah ayat 269 : 

 وَمَْنْ يُؤَْتَ الْحِكْمََةَ فَقَْدْ أوتَِيَ خَيًْرًا آَثِيًرًا

“Dan barang siapa yang dianugerahi al-Hikmah itu ia benar-benar telah diberi anugerahi kebaikan yang banyak”  

Al-Fairus Abadi mengatakan lafal al-Hikmah mempunyai 6 pengertian dalam al-Qur'an :  

1) Hikmah berarti Kenabian dan kerasulan, seperti yang disebutkan dalam surat ali-Imran ayat 48 : 

 (48)وَيُعِّ ََلمُُهُ الْكِتَاَبَ وَالحِكْمََةَ َوَالتَّ وْرَاَةَ َوَالْإِنْجِيَلَ

Qur’an as-Shad ayat 20 :  وَشَدَدَْنَا مُلْكَُهُ وَءَاتَيْنَاُهُ الْحِكْمََةَ وَفَصَْلَ الْخِطَاِبِ(20)

Qur’an al-Baqarah ayat 251  

وءَاتَاُهُ الَّ لُهُ المُلَْكَ وَالْحِكْمََةَ

2) Kedua, al-hikmah berarti al-Qur'an, tafsir dan ta’wil serta perkataan yang benar, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur'an surah al-Baqarah 269 :  

يُؤِْتِي الْحِكْمََةَ مَْنْ يَشَاُءُ وَمَْنْ يؤَْتَ الْحِكْمََةَ فَقَْدْ أوتَِيَ خَيًْرًا آثِيًرًا وََمَا يَذَّ آَّ ُرُ ِإِلا أوُلو الْأَلْبَاِبِ(269)

3) Ketiga, hikmah berarti pemahaman yang mendalam dan pemahaman dalam agama, seperti yang disebutkan dalam al-Qur'an surah Maryam ayat 12 :  

يَايَحَْيَى خُِذِ الْكِتَاَبَ بُِقُوَّ ٍةٍ وَءَاتَيْنَاُهُ الْحُكَْمَ صَبِِيا(12)

4) Keempat, hikmah berarti pengajaran yang baik dan peringatan seperti yang disebutkan dalam al-Qur'an surah an-Nisa’ ayat 54 :  

أَْمْ يَحْسُدُوَنَ النَّ اَسَ عَلَى َمَا ءَاتَاهُُمُ الَّ لُهُ مِْنْ فَضْلِِهِ فَقَْدْ ءَاتَيَْنَا ءَاَلَ إِبْرَاهِيَمَ الْكِتَاَبَ وَالْحِكمََةَ وءَاتَيْنَاهُْمْ مُلًْكًا عَظِيًمًا(54)

Hikmah pada diatas adalah pengajaran yang baik.  

5) Kelima, hikmah berarti ayat-ayat al-Qur'an, perintah-perintah dan larangan-larangannya, disebutkan dalam al-Qur'an surah an-Nahl ayat 125.  

ادُْعُ إَِلَى سَبِيلِ َرَبِّ َكَ بِالْحِكْمَِةِ

6) Keenam, hikmah berarti kecerdasan akal sesuai dengan hukum-hukum syariat, seperti yang disebutkan dalam, surat Luqman ayat 12 :  

وَلقَْدْ ءَاتيَْنَا لقْمَاَنَ الْحِكْمََةَ أَ ِنِ اشْكُْرْ ِلَِّ لِهِ وَمَْنْ يَشْكُْرْ فَإِنَّ مََا يَشْكُُرُ لِنَفْسِِهِ وَمَْنْ آَفََرَ فَِإنَّ  الَّ لهَ غَِنيٌّ  حَمِيٌدٌ(12)

Makna hikmah dalam ayat ini adalah ucapan yang sesuai dengan akal dan syariat. 

Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-Adzim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ali bin Thalhah mengatakan : hikmah adalah mengetahui al-Qur'an, termasuk nasikh dan mansukhnya yang pasti hukumnya dan yang mutasyabih, yang didahulukan dan yang diakhirkan, halal dan haramnya dan sebagainya.  

Dalam ungkapannya yang lain ia mengatakan : diriwayatkan dari Ibnu Abbas secara marfu’ (riwayat ini sudah sampai kepada Nabi SAW) hikmah adalah al-Qur'an, yakni penafsirannya dari mujahid, Laits bin Abi Salim mengatakan : Firman Allah, artinya Allah menganugerahkan al-Hikmah kepada siapa yang dikehendaki (QS. Al-Baqarah 2 : 269), bahwa yang dimaksud ayat ini bukanlah kenabian (Nubuwwah) melainkan ilmu, pemahaman dan al-Qur'an.  

Ibrahim an-Nakha’I mengatakan hikmah adalah pemahaman. Abu Malik mengatakan hikmah adalah as-Sunnah. Zaid bin Aslam mengatakan hikmah adalah akal.  

Malik mengatakan : sebenarnya telah terdetak didalam hatiku bahwa hikmah adalah pemahaman tentang agama Allah, dan merupakan sesuatu yang dimasukkan Allah kedalam hati manusia karena rahmad dan karunianya. Sedangkan Assudy mengatakan hikmah adalah kenabian.  

Itulah ucapan-ucapan yang disebutkan oleh Ibnu Katsier yang kemudian ia mengatakan : yang benar adalah bahwa hikmah sebagaimana diungkapkan oleh jumhur bukan hanya kenabian tetapi lebih dari itu yang pengertiannya lebih dekat adalah keNabian dan lebih khusus lagi adalah kerasulan akan tetapi para Nabi selalu mengikuti jalan yang baik (maknanya menjadi lebih umum), sebagaimana disebutkan dari beberapa hadits.   

Abdurrahman as-Sa’dy dalam menafsirkan hikmah mengatakan bahwa hikmah adalah ilmu-ilmu yang bermanfaat, pengetahuan-pengetahuan yang benar, akal yang tepat penalaran yang mengena dan pencapaian yang benar baik dalam ucapan maupun perbuatan. Kemudian ia mengatakan semua urusan tidak akan baik kecuali dengan hikmah, yang mengandung pengertian menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, menurunkan segala sesuatu pada tempat turunnya, memajukan segala sesuatu pada tempat majunya.4

Al-Qasimy dalam penafsirannya tentang hikmah mengatakan mayoritas orang mengatakan bahwa hikmah adalah kesesuaian ilmu dan amal, atau dengan ungkapan lain adalah mengetahui yang hak (kebenaran) dan melaksanakannya. Dalam hal ini ar-Razy mengatakan yang dimaksud dengan hikmah selain ilmu, juga melaksanakan dengan benar.   

Dalam penafsirannya Rasyid Ridha mengatakan hikmah adalah pemisah atau pembeda apa yang terdetik dalam jiwa berupa ilham illahi dan godaan syetan.6  

Al-Alusyi mengatakan sebenarnya ada 29 ungkapan ahlul ilmi yang masing-masing saling berdekatan maksudnya, tampaknya sebagian besar mereka mengungkapkan istilah dan ringkasan tentang pengertian yang penting dari hikmah yang pada intinya adalah sumber dari kebijaksanaan dan ketetapan ilmu atau amal ataupun ucapan. 

Sementara itu Ibnu Assyur mengatakan hikmah ditafsirkan sebagai pengetahuan tentang hakikat-hakikat segala sesuatu dengan tepat yang dapat dicapai dengan kekuatan, dimana hakikat-hakikat tersebut tidak menyerupai lainnya, dan tidak terkabulkan oleh alasan dan sebab.  

Baca juga : SEJARAH NAHDLATUL ULAMA’ , Fadhilah Membaca Sholawat , TASAWUF , Puisi keAgungan illahi.🤲 , Kata kata hikmah , Jum'at Barokah , Rahasia Di Balik Sabar dan syukur , MASJID AGUNG DEMAK

Ada 7 pengertian al-Hikmah :  

a. Menurut Ibnu Abbas adalah pemahaman al-Qur'an  

b. Menurut Ibnu Za’id adalah pengetahuan agama (mengetahui betul agama 

itu apa?)  

c. KeNabian  

d. Menurut Rabi’ adalah rasa takut atau malu  

e. Menuntut Ibnu Najih dari mujahid adalah kebenaran  

f. Menurut mujahid adalah tulisan (pemahaman yang ditunjukkan dalam bentuk penulisan) 

g. Menurut Zid bin Aslam adalah berupa akal (pemikiran).  

Hikmah lebih luas dari pada ilmu bahkan ujung dari pada ilmu adalah permulaan dari pada hikmah. Hikmah boleh juga diartikan mengetahui yang tersirat di belakang yang tersurat, menilik yang ghoib dari melihat yang nyata mengetahui akan kepastian ujung karena telah melihat pangkal. Perasaan ahli hikmah adalah sangat halus, karena melihat alam maka ahli hikmah mengenal Tuhan. Sebab itu dalam bahasa kota hikmah disebut bijaksana.  

Syekh Muhammad Abduh sebagai seorang ulama’ yang hidup dipermulaan zaman modern, yang telah membaca buku-buku dari ahli-ahli fakir, secara luas menafsirkan tentang hikmah. Bahwasannya hikmah itu adalah ilmu yang sah, yang dapat dipertanggungjawabkan, yang telah sangat mendalam pengaruhnya di dalam diri sendiri, sehingga dia yang menentukan iradhah dan kemauan untuk memilih yang dikerjakan.9

Allah SWT memberi hikmah dan ilmu pengetahuan yang bermanfaat dan menjiwai yang punya kepada siapa saja yang dikehendaki Allah dengan demikian, ia dapat membedakan antara hakikat dan ulasan, disamping mudah mengetahui antara godaan dan ilham (inspirasi).  

Menurut HIb’rul Ummah (orang paling alim), Abdullah bin Abbas, Uamh dimaksud dengan kalimat hikmah dalam ayat ini ialah pengetahuan mengenai al-Qur'an atau mengetahui apa yang terkandung didalamnya yakni hidayah hukum dan rahasia.   

Disini hikmah dipahami dalam arti pengetahuan tentang baik dan buruk serta kemampuan menerapkan yang baik dan menghindar dari yang 

buruk.  

Alat untuk memperoleh hikmah itu adalah akal yang sehat dan cerdas yang dapat mengenal sesuatu berdasarkan dalil-dalil dan bukti dan dapat mengetahui sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya. Dan barang siapa yang telah mencapai hikmah dan pengetahuan yang demikian itu berarti ia telah dapat membedakan antara janji Allah dan bisikan syetan. 

Sementara dilihat penggunaan sehari-hari hikmah berarti kebijaksanaan ilmu tentang segala sesuatu yang baik atau filsafat atau kebenaran yang hakiki dan juga dimaknakan sebagai pelajaran yang bisa diambil dari sesuatu kejadian atau peristiwa. 
Kata hikmah telah didefinisikan dalam banyak cara seperti mengetahui dan mengenal rahasia-rahasia dunia, pemahaman terhadap kebenaran alQur'an, mencapai kebenaran melalui lisan dan perbuatan, dan mengenal Allah. Masing-masing makna ini pada hakekatnya mempunyai makna yang dalam dan kebijaksanaan bagi manusia.   
Hikmah adalah pengetahuan yang dalam, mengerti hal-hal dibalik kenyataan, juga berarti kebijaksanaan, pandai meletakkan sesuatu pada tempatnya sehingga segalanya dapat berjalan lancar dan berhasil.  
Hubungan antara ilmu dan hikmah sangat erat sehingga dikatakan orang bahwa tanpa ilmu adalah dangkal. Al-Qur'an dengan tegas siapa yang diberi hikmah dia telah memperoleh pemberian yang sangat banyak.   
Diantara istilah-istilah dalam al-Qur'an yang berhubungan dengan objek ilmu dan akal ialah al-Hikmah. Kata al-Hikmah diulang dalam alQur'an baik dalam bentuk makrifat maupun nakiroh (khusus dan umum) sebanyak dua puluh kali, sepuluh diantaranya digandengkan dengan kata alKitab. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan al-Hikmah.  
Ar-Raghib al-Isfahani dalam Mufrodatu al-Fazil qur’an berkata : alHikmah adalah mencari kebenaran dengan ilmu dan akal maka hikmah dari Allah adalah mengetahui dan mendapatkan sesuatu seakurat mungkin sedangkan al-Hikmah dari manusia adalah mengetahui yang ada dan mengerjakan. Inilah sifat yang melekat pada diri Luqman sebagaimana diterangkan dalam firman Allah :  
ولقَ ْدْ ءَاتَيَْنَا لقْمَاَنَ الحكمََةَ 
Artinya :  “Dan sesungguhnya telah kami berikan hikmah kepada Luqman” 
(QS. Luqman : 12)  
 
Allah mengingatkan makna hikmah secara umum dengan pensifatan hikmah itu kepada Luqman.  Imam al-Fahrur Rozhi berkata : Ketahuilah bahwa hikmah adalah mencapai kebenaran dalam ucapan dan tindakan. Tidak disebut al-Hakim kecuali orang yang berkumpul padanya kedua sifat itu. Dikatakan. Asalnya dari kata yang artinya adalah menolaknya, seakan-akan al-Hikmah itu menolak kebodohan dan kesalahan. Hal itu terjadi, seperti telah kami sebut dengan mencapai kebenaran dalam ucapan dan tindakan, serta meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Al-Qoffal berkata sebagian filosofi mengatakan hikmah sebagai usaha manusia untuk menyerupai Tuhan.  
Sebagian lagi menyatakan hikmah berarti berusaha berakhlak dengan akhlak Allah. Maksudnya bahwa hikmah menjadi bagian dari asma-asma dan sifat-sifat-Nya dengan porsi yang layak sesuai dengan kemanusiaan-Nya dan kemampuan dan potensinya.  
Ar-Razi : Ketahuilah bahwa hikmah tidak mungkin keluar dari kedua makna ini (bersifat ilmiyah dan amaliyah). Hal itu dikarenakan kesempurnaan manusia terletak pada dua perkara : mengetahui hak Lidzati (artinya untuk imani) dan mengetahui kebenaran untuk ia amalkan. Maka tempat kembali yang pertama, yakni yang bersifat ilmiyah, adalah kepada ilmu dan pengetahuan yang proporsional. Sedangkan yang kedua kembali kepada 
berbuat adil dan benar.   
Allah berfirman dalam menjelaskan keutamaan dan kepentingan hikmah, Allah menganugerahkan al-Hikmah (kepahaman yang dalam tentang al-Qur'an dan as-Sunnah) kepada siapa yang ia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al-Hikmah itu, ia telah dianugerahi karunia yang banyak (QS. Al-Baqarah : 269).
    .يؤتى الحكمة من يشأ ومن يؤتى الحكمة فقد اوتي خيرا آثيرا
Maka jika Allah menganggap dunia seluruhnya sebagai benda yang sedikit, maka bisa dibayangkan betapa besar nilai kebaikan yang disifati Allah dengan sifat banyak, yaitu buah dari hikmah.  
Hal itu dikarenakan dengan hikmah inilah ilham Robani bisa dibedakan dari was-was akibat pengaruh setan.  
Para Mufasir salaf berbeda pendapat dalam menjelaskan makna alHikmah pada ayat-ayat yang didalamnya ada kalimat al-Hikmah. Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Wahab, ia berkata “aku bertanya kepada Malik apa hikmah itu jawabannya makrifat terhadap agama dan memahaminya serta mengikuti ajarannya” Ibnu Jarir juga meriwayatkan dari Qatadah bahwa hikmah itu adalah as-Sunnah.  
Dari sini tampak bahwa sunnah berfungsi sebagai penjelas konsep al-
Qur'an sekaligus aplikasi nyatanya.  
Diriwayatkan dari Ibnu Wahab, ia mengatakan bahwa Ibnu Zaid berkata sehubungan firman Allah tentang al-Hikmah, “Al-Hikmah adalah agama yang tidak mereka ketahui ajarannya, kecuali melalui Rasulullah SAW dan agama yang beliau ajarkan”. Ia juga mengatakan al-Hikmah adalah akal dalam agama.  
Ibnu Zaid berkata ia tidak mengambil manfaat dari ayat-ayat itu karena tidak memiliki hikmah, sedangkan hikmah adalah sesuatu yang dijadikan Allah didalam hati dan memerangi didalamnya.  
  ويعلمكم الكتب والحكمةAr-Razi berkata,  
Maksudnya, ia mengajarkan mereka hukum-hukum yang ada di dalamnya. Maksud al-Hikmah Allah mengajarkan mereka hikmah syariatsyariat itu dan isi kandungannya yakni bentuk-bentuk maslahat dan manfaat.  
Syekh Muhammad Abdduh berkata ketika menjelaskan maksud ayat :  
آَمَاَ أَرْسَلَْنَا فِيْكُْمْ رَسُوًْلاً مِنْكُْمْ يَتُُْلوا عَلَيْكُْمْ إَيَاتِنَاَ وَيَُزَآِّ يْكُْمْ وَيُعِّ ََلمُكُْمْ الْكِتَاَبَ وَالْحِكْمََةَ وَيُعِّ ََلمُكُْمْ مَالَْمْ تَكُوْنُْوْا تَعْلَمُوَْنَ 
Artinya :  “Kitab Ilahi atau tulisan yang dengannya mereka keluar dari kegelapan buta huruf dan kebodohan menuju cahaya ilmu dan peradaban. Dan boleh juga memadukan dua makna tersebut, menurut pendapat yang sahih, dengan menggunakan konsep Musytarak (bahwa kata memiliki dua makna, hakiki  dan majazi). Pada dua makna itu atau pada makna-makna yang dituntut oleh kontek.  
 
Adapun hikmah adalah ilmu yang dihubungkan dengan rahasia-rahasia dan berbagai manfaat hukum-hukum, yang memotivasi dan merasa untuk mengamalkan hukum-hukum tersebut.  
Abduh berkata sebagian mufasir menafsirkannya dengan as-Sunnah ini tidak benar karena penyebutan al-Hikmah dihubungkan kepada sebagian nash-nash al-Kitab seperti akidah, fadilah-fadilah, hukum-hukum positif serta negatif dengan dalil-dalil firman Allah setelah wasiat-wasiat yang dibarengkan dengan alasan-alasan amr dan nahy perintah atau larangan dalam surat al-Isroq.  
Selain itu, dalam surat Luqman diterangkan bahwa Allah mendatangkan baginya hikmah dan ia menyebutkan wasiat kepada anaknya yang diillatkan dengan sebab-sebab nahy. Jadi hikmah al-Qur'an adalah hikmah tertinggi, baru kemudian hikmah Rasulullah SAW.   
Kita mesti menafsirkan al-kitab dan al-Hikmah dengan penafsiran yang sesuai dengan makna untuk tiap-tiap kontek kedua kata ini.  
Allah menganugerahkan kedua sifat ini kepada Ibrahim. (QS. AnNisa’ : 54). Tidak mungkin maksud al-Hikmah dalam kontek ayat tersebut sebagai as-Sunnah karena maksud sunnah adalah sunnah Muhammad SAW.  
Allah berfirman dalam kontek kabar gembira kepada Mariam akan kelahiran anaknya Isa as. Juga dalam kontek anugerahnya kepada Isa, Allah berfirman dalam surat al-Imran : 48 :    
وَيُعِّ ََلمُكُُمُ الْكِتَاَبَ وَالْحِكْمََةَ َوَالتَّ وْرَاَتَ وَاْلإِنْجِيَْلَ
“Dan Allah mengajarkan kepadanya al-Kitab Taurat dan Injil” (QS. Al-Imran : 48)  
 
Al-kitab tidak bisa ditafsirkan dengan as-Sunnah sebagaimana tidak bisa ditafsirkan dengan Taurat atau Injil karena kedua kitab itu disebut dalam nash yang sama. Karena itu ia tidak dianugerahkan kepada Muhammad SAW tetap kepada umatnya. Artinya, Dia mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah.  
Sedangkan maksud al-Hikmah pada ayat-ayat itu adalah pemahaman yang baik terhadap kitab-kitab dan mengetahui hukum-hukumnya dengan mengenal maksud-maksud dan rahasia-rahasianya serta tidak berhenti pada makna lahirnya saja. Termasuk juga di dalamnya, mengetahui rahasia dibalik hukum-hukum dan arahan-arahannya berupa manfaat dan maslahat yang mencakup kebaikan dunia dan akhirat, dan kebahagiaan individu dan masyarakat, baik materi atau rohani. Sebab, dengan pemahaman ini mendorongnya untuk mengamalkan isi ajaran-ajaran dengan baik dan meletakkannya pada tempat yang sesuai.  
Hikmah inilah yang merupakan anugerah atau nikmat dari Allah yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang ia kehendaki. 
Syeh Muhammad Abduh berkata al-Hikmah dengan ilmu yang benar, menjadi sifat yang menentukan di dalam jiwa yang menguasai keinginan dan mengarahkannya kepada amal. Jika amal timbul dari ilmu yang benar, maka ia adalah amal yang saleh yang bermanfaat dan bisa mengantar kepada kebahagiaan dan dia juga berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “Allah mendatangkan hikmah kepada orang yang dikehendakinya” adalah ia memberikan alatnya yaitu akal dengan sempurna beserta taufiqnya sehingga digunakan dalam menghasilkan ilmu yang benar.  
Rasyid Ridha berkata pendapat ini sesuai dengan apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa hikmah adalah fiqh terhadap al-Qur'an. Artinya mengetahui isi kandungan al-Qur'an berupa petunjuk dan hukumhukum dengan illah-illah dan hikmah-hikmahnya, karena fiqh ini adalah yang berpengaruh dalam hati yang mampu menghapus rasa was-was yang menimpanya agar tidak menghalangi perbuatan amal soleh. Maka Ibnu Abbas menafsirkan hikmah dengan lebih khusus dengan pertimbangan konteks. Sedangkan al-Ustad al-Imam menafsirkan dengan yang lebih umum karena menjelaskan keuniversalan hidayah al-Qur'an. Jadi ayat tersebut dengan kemutlakannya mengangkat hikmah dengan cakupan makna-makna yang luas, 
dan menunjuki pendayagunaan akal pada objek-objek penciptaan yang paling 
mulia. Barangsiapa yang mengikuti taklid, maka ia terhalang dari buah akal yaitu hikmah.   
Menurut pendapat ulama akhlak salaf, hikmah adalah segala keutamaan dan pondasi akhlak manusia. Setiap keutamaan bersumber dari hikmah dan kembali kepadanya. Hikmah adalah nilai yang tinggi, ia adalah tanda kesempurnaan ilmu dan pengetahuan. Barangsiapa memiliki hikmah ia telah mendapat segala kebaikan.  
Hikmah Allah berarti mengetahui sesuatu dengan sempurna, hikmah manusia berarti mengetahui hal-hal yang wujud dan berbuat kebaikan. Jika hikmah diletakkan dengan sifat al-Qur'an maka hikmah menjadi isi dari alQur'an.  
Ajaran Islam menganggap al-Hikmah sebagai nikmat yang 
dianugerahkan Allah kepada hamba yang dikehendakinya. Seperti dalam surat al-Baqarah Allah berfirman :  
وَمَ ْنْ يُؤَْتَ الْحِكْمََةَ فَقَْدْ أوْتَِيَ خَيًْرًا آَثِيْرًاً 
Barangsiapa mengamati ayat-ayat diatas serta ayat-ayat lain yang membahas al-Hikmah, maka ia akan menjumpai bahwa hikmah adalah Ibah dari Allah, bukan dari hasil usaha jerih payah manusia. Terkadang manusia mendapatkan keutamaan berkat usahanya. Tetapi tidak mungkin mendapatkan semua keutamaan dan kesempurnaan tanpa memperoleh hikmah karena hikmah hanya bisa diraih berkat taufiq dari Allah karena memang, taufiq adalah sumber hikmah. Dari taufiq-Nya, Allah melimpahkan hikmah kepada orang-orang yang Dia kehendaki, seperti para Nabi dan wali yang dijadikan sebagai teladan yang tinggi untuk ditiru manusia. Namun kenyataan ini tidak mesti membuat kita berputus asa untuk mencapai keutamaan hikmah. Tetapi manusia didorong untuk menggapai hikmah sesuai dengan kemampuannya. Semua akan digapai manusia, sesuai dengan usaha yang dia lakukan.   
Ibnu Miskawaih dalam kitabnya Tahzib al-Akhlak berpendapat bahwa hikmah adalah keutamaan yang dimiliki jiwa yang berbicara dan Mumaiyyis. Hikmah berarti mengetahui segala sesuatu yang wujud seuai dengan kondisi sebenarnya. Hikmah juga bisa diartikan sebagai mengetahui mana perkataan yang harus diamalkan, dan mana yang harus diabaikan.  
Hikmah menuntut manusia untuk mengetahui dan memahami permasalahan dengan baik dan sempurna, sebelum kemudian berusaha untuk mengimplementasikannya. Pemahaman yang baik tidak mesti harus diambil dari lembaga atau sekolah, dan tidak pula dari lembaran-lembaran buku.  
Pernyataan ini sesuai dengan apa yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas : sesungguhnya hikmah adalah faham dalam al-Qur'an, pemahaman dalam konteks ini berarti memahami kandungan al-Qur'an seperti petunjuk Ilah dan faedah Ilah. Pemahaman ini adalah hakekat yang paling agung yang mempunyai pengaruh besar pada jiwa, yang mampu menghapus segala waswas, agar was-was ini tidak menjadi penghalang untuk beramal soleh. 
Allah menciptakan hikmah bersama dengan karunia yang banyak. Karunia dan hikmah tidak akan pernah terpisah sebagaimana Ma’lul tidak akan terpisah dengan Ilahnya. Jadi hikmah adalah pengetahuan yang benar yang menggerakkan irodah manusia untuk berbuat baik.  
Jalan terbaik untuk mencapai hikmah adalah menggunakan metode pendidikan moral yang baik, dan meneladani hikmah para orang-orang yang bijak seperti qonaah, seimbang, be nar, adil dalam berbuat dan jujur dalam berucap.  
Suatu hal yang perlu mendapat perhatian, berkenaan dengan hubungan dengan hikmah, ialah bahwa dalam al-qu’ran kata hikmah banyak disebutkan setelah kata al-Kitab ketika dinisbahkan pada rasulullah SAW, dan sesudah kitab-kitab Samawi yang lain ketika dinisbahkan kepada para rasul dan Nabi sebelumnya. Kenyataan ini memperkuat bukti adanya hubungan yang sangat kuat antara kitab-kitab samawi termasuk al-Qur'an dengan al-Hikmah yang dimaksud dengan al-Hikmah dalam al-Qur'an ialah ajaran-ajaran Ilahi yang terdiri dari keyakinan yang benar dan akhlak yang utama. Hikmah adalah ajaran-ajaran kebenaran yang memberikan manfaat kepada manusia yang menyempurnakannya, dan yang berhubungan dengan keyakinan dan amal. 
Hikmah ialah akal, ilmu, kesadaran, kepemahaman, hukum-hukum Fariyah, dan manfaat yang tercakup oleh-Nya.   
Apa hubungan antara al-Qur'an dan al-Hikmah mengapa pada banyak ayat al-Qur'an yang berbicara tentang al-Hikmah, kata hikmah disebutkan sesudah kata al-Qur'an, sesungguhnya al-Qur'an adalah kitab insani dan hidayah, sebagaimana juga kitab-kitab samawi lainnya pada zamannya.  
Salah satu sifat al-Qur'an adalah kitab yang penuh hikmah. Tidak ada yang keluar dari Allah SWT kecuali hikmah. Dengan demikian hubungan antara al-Qur'an dan hikmah adalah hubungan antara pokok dan buah, antara yang diikuti dengan yang mengikuti. 
Ini berbeda dengan ayat al-Qur'an yang berbicara tentang do’a Nabi 
Ibrahim as berikut :  
يَتُْلْوْا عَلَيْهِْمْ اَيَاتَِكَ وَيُعِّ ََلمُهُُمُ الْكِتاََبَ وَالْحِكْمََةَ وَيَُزَآِّ يْهِْمْ  
Ayat yang pertama mengandung pendidikan yang diberikan rasulullah kepada kaum mukmin. Sedangkan ayat yang kedua adalah do’a dan 
permohonan Nabi Ibrahim as berupa kesucian, ilmu tentang kitab dan hikmah.  
Pada tempat lain dalam al-Qur'an kita mendapati kata hikmah diletakkan sebelum pengajaran kepada rasul. Dari keterangan diatas dapat dipahami bahwa hikmah membukakan wawasan baru yang luas kepada manusia, jika dia mengamalkan apa yang diketahuinya dengan hikmah. 
Manusia jadi mengetahui apa-apa sebelumnya ia tidak mengetahui. Puncak dari itu adalah pengetahuan-pengetahuan kebenaran yang terkandung dalam al-Qur'an. Semua itu adalah hasil dari hikmah. Karena dalam hikmah terkandung kebaikan yang banyak.   
Selanjutnya kita juga mendapati bahwa pada satu tempat dalam alQur'an al-Karim, kata hikmah diletakkan sesudah kata ita’i al-mulk (memberikan pemerintahan) yang dalam ungkapan sekarang dengan 
kekuasaan.  
Hikmah sebagai tujuan adalah ajaran-ajaran kebenaran, yang terdiri dari keyakinan-keyakinan yang benar dan nilai-nilai akhlak yang terkandung dalam al-Qur'an. Hikmah sebagai alat adalah menyampaikan kebenaran dengan didasari pertimbangan-pertimbangan ilmu dan akal. Yaitu cara-cara sistematis yang bijaksana dalam menyampaikan risalah dan tuntunan perilaku dalam kehidupan.  
Di dalam kitab al-Mufroda dijelaskan bahwa yang dimaksud hikmah adalah menyampaikan kebenaran dengan ilmu dan akal. Dengan mendalami makna-makna diatas dapat diambil kesimpulan yang dimaksud hikmah hanya Allah yang Maha Tahu adalah argumentasi yang menghasilkan kebenaran yang tidak mengandung pertentangan, kelemahan dan kesamaran 
didalamnya.   
Para Sufi juga menggunakan kata hikmahd alam arti kebijaksanaan suatu pengetahuan tentang esensi, sifat-sifat, kekhususan dan hasil dari segala sesuatu sebagaimana adanya melalui study tentang cara, akibat, dan kegunaannya. Mereka menyebut empat macam kebijaksanaan yang 
diekspresikan dalam istilah hikmah yaitu :  
1) Al-Hikmah al-Mantuqah (kebijaksanaan menurut bunyi lafalnya) yakni pengetahuan didalam al-Qur'an atau didalam Toriqoh  
2) Al-Hikmah al-Maskutah (kebijaksanaan yang tidak menurut bunyinya) yakni hanya dipahami oleh sufi tidak oleh orang biasa.  
3) Al-Hikmah al-Majhulah (kebijaksanaan yang tidak diketahui) yaitu perbuatan Allah SWT yang tidak diketahui oleh makhluknya.  
4) Al-Hikmah al-Jamiah (Kebijaksanaan kolektif) yaitu pengetahuan tentang yang hak dan melakukannya, serta persepsi tentang yang bathil dan penolakan terhadapnya.  
Bagi sufi hikmah dapat menyucikan jiwa dari kotoran tabiat dholim sedangkan kata hikmah menurut para fuqoha adalah untuk menyatakan manfaat suatu perbuatan dan rahasia-rahasia hukum tersebut, dalam bahasa Indonesia hikmah disamping mengandung arti kebijaksanaan dan kepandaian juga berarti kesaktian dan magi.   
Ibnu Al-Qoyyim mengatakan : hikmah ada dua bagian yakni ilmiyah 
dan amaliyah, yang dimaksud dengan ilmiyah adalah menelaah kandungan 
segala sesuatu dan mengetahui hubungan sebab-sebab dengan akibatnya dari penciptaan, perintah, Qodar dan hukum syariah. Sedangkan yang dimaksud dengan amaliyah adalah menempatkan seuatu pada tempatnya.  
Ia mengatakan bahwa hikah ada tiga tingkatan :  
Tingkat pertama, Memberikan haknya segala sesuatu, tidak melampaui batasnya, tidak mendahului waktunya dan tidak pula terlambat atau mengakhirkannya.  
Tingkat kedua, bersaksi melihat kebenaran janji Allah mengetahui keadilan Allah pada hukum-Nya, merasakan kebaikan Allah pada laranganNya. Diantara pengertian-pengertian tingkatan ini adalah ungkapan AhlulIsbat wassunnah yaitu bahwa hikmah adalah maksud-maksud yang terpuji yang diwajibkan oleh Allah SWT dari ciptaan dan perintahnya, yang mana Allah memberikan perintah untuk hidup, telah menciptakan dan menakdirkan karena untuk itu pula.  
Tingkat ketiga, memperoleh firasat dalam mencari dalil, menemukan kebenaran dan mencapai tujuan. Dalam hal ini, Ibnu al-Qayyim mengatakan : yang dimaksud adalah bahwa kita mencapai derajat ilmu yang paling tinggi dalam mencari bukti-bukti, dimana kedudukan firasat dengan ilmu adalah seperti pandangan dan penglihatan.   
Imam Bukhori mengatakan hikmah adalah kebenaran yang selain 
kenabian.  
Ibnu Hajar mengatakan : banyak perbedaan dalam menerangkan yang dimaksud dengan hikmah tersebut diantaranya :  
a) Kebenaran dalam perkataan  
b) Kebenaran yang rasional  
c) Cahaya yang membedakan antara ilham dan bisikan setan  
d) Kecepatan menjawab dengan tepat.  
e) Pemahaman terhadap ayat-ayat Allah.   
Setelah membahas sejumlah pengertian tadi maka ringkasnya dan sekaligus merupakan intisari dari semua itu hikmah adalah melakukan sesuatu yang layak dengan cara yang layak dan dalam waktu yang layak.  
Apapun redaksional al-Hikmah yang dikemukakan para ulama yang jelas makna mendasar dari al-Hikmah adalah mengetahui yang benar. Disamping itu juga kata hikmah juga biasa diartikan mengetahui yang buruk untuk senantiasa melakukan yang baik, atau mengetahui dan meyakini suatu kebenaran, serta kebijaksanaan.   
Kita akhiri ungkapan para mufassir tentang hikmah ini dengan ungkapan yang disebutkan oleh Sayyid Quthb dalam menafsirkan hikmah ini. 
Beliau mengatakan : Kesederhanaan dan kebijaksanaan, mengetahui sebab-
sebab dan tujuan, pandangan yang terang yang menuntun kepada 
kemaslahatan yang tepat dalam aktivitas dan perbuatan.   
 
B. Pengertian al-Hikmah Menurut Bahasa  
Ibnu Faris mengatakan huruf Ha  ( ح), Kaf ( ك), dan Mim ( م), merupakan asal kata hikmah ( حكمة), yang mengandung pengertian mencegahnya dari mogok dan sebagainya (untuk binatang). Kata hikmah merupakan kiasan karena mencegah, sedangkan kata al-Muhakkam mengandung pengertian : orang yang banyak pengalamannya dengan hikmah.   
Ibnu Mandzur mengatakan bahwa al-hakim adalah yang memiliki hikmah. Sedangkan hikmah merupakan simbol dari pengetahuan (ilmu), tentang sesuatu yang paling utama melalui ilmu yang paling mulia.  
Al-Jauhari mengatakan al-Hukm adalah al-Hikmah min al-Ilmi (hikmah dari ilmu), orang yang mempunyai hikmah adalah orang-orang yang sangat mendalami urusan-urusan.  
Al-Asma’I mengatakan dalam buku Taj’al-Arus : al-Hikmah berarti alAdl fi al-Qadha (bijaksana dalam mengambil atau menentukan hukum). Hikmah juga berarti mengetahui hakikat segala sesuatu dengan sebenarnya dan melaksanakan sesuai dengan tuntutannya (kaidahnya). Karena itu hikmah terbagi menjadi dua : amaliah (praktis), dan ilmiah (teoritis).  
Hikmah juga dikatakan sebagai corak kekuatan akal, hikmah juga bisa dikatakan menepati kebenaran (al-Haq) dengan ilmu dan amal (perbuatan).  
Maka hikmah dari Allah adalah mengetahui segala sesuatu dan melahirkannya dengan tepat. Sedangkan hikmah dari manusia adalah mengetahui hal-hal tadi dan melaksanakannya dengan perbuatan-perbuatan baik.  
Disebutkan dalam buku al-Misbah al-Munir : al-Hikmah berarti yang mengimbangi beban binatang. Disebut hikmah karena hal itu menundukkannya bagi yang menungganginya sehingga mencegahnya dari mogok dan sejenisnya. Orang yang memiliki hikmah (shahib al-hikmah) berarti orang yang mencegah perbuatannya dari akhlak-akhlak yang buruk. Itulah tadi pengertian hikmah menurut arti bahasa dan asal katanya. 
 
C. Upaya mendapatkan al-Hikmah  
Sarana yang dapat menampung hikmah ini, adalah akal yang mampu memberi keputusan dalam menelusuri segala sesuatu dengan berbagai argumentasi, disamping menyelidiki hakikatnya secara bebas. Siapa saja yang telah dianugrahi akal seperti ini, maka ia akan mampu membedakan antara janji Allah dan ancaman syetan. 
Sarana hikmah adalah akal sehat yang merdeka untuk menentukan permasalahan. Allah menyebutkan hikmah secara berulang-ulang dalam 
berbagai ayat. Hal ini menunjukkan keagungan dan keutamaan hikmah. 
Bukanlah pemikiran ataupun konsepsi manusia yang mempunyai peran dalam menciptakan peradapan, tetapi kerja konkrit yang bersumber dari manusia, sebagai refeleksi dari salah satu karakteristik manusia.  
Hikmah mengantarkan individu pada keberhasilan dan kemenangan. Akhlak mengantarkan umat untuk mencapai peradapan yang tinggi melalui jalan yang paling dekat. Hikmah menuntut manusia untuk menguasai segala dimensi permasalahan sebelum ia mengerjakannya.  
Masyarakat manusia sangat membutuhkan hikmah. Mereka mencari hikmah itu lantas mereka mendapatkan ketentraman dan kedamaian yang mengantarkan mereka kepada kebahagiaan yang agung. Tanpa hikmah kita akan kehilangan jejak, tersesat dalam kegelapan yang menakutkan dan dalam kebodohan yang buta. 
يتلوا عليهم اياتك ويعلمهم الكتاب والحكمة ويزآيهم 
Penempatan kata hikmah sebelum kata tazqiyah dalam ayat diatas dan ayat-ayat yang lainnya dapat dipahami dengan mendasar kedua hikmah dalam arti akal dan menggunakannya dalam bentuk yang terbaik, alat yang memungkinkan manusia menyucikan dirinya. Dengan kata lain penyucian diri adalah buah dari akal, dan akal adalah hikmah.  
Al-Lamah Sayyid Muhammad Thabathabai mengatakan :  
Allah SWT telah mendahulukan kata tazkiyyah dalam ayat berikut :  
يتلوا عليهم اياتك ويعلمهم الكتاب والحكمة ويزآيهم 
Di dalam ayat ini Allah SWT mendahulukan kata tazkiyyah atas kata alKitab dan menyejajarkan al-Kitab dengan mengajarkan al-Hikmah yang dimaksud dengan al-Hikmah adalah pengetahuan-pengetahuan kebenarankebenaran yang terkandung di dalam al-Qur’an.  

Semoga bermanfaat.
ⒶⓁ ⒽⒾⓀⓂⒶⒽ

 



Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

0 Response to " AL-HIKMAH DALAM AL-QUR'AN "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel