Kiai Haji Achmad Abdul Hamid Kendal

Kiai Haji  Achmad Abdul Hamid Kendal

Ringkasan

Deskripsi

Deskripsi


Kiai Haji Achmad Abdul Hamid Kendal

Kelahiran: 1915 (usia 106 tahun)

Tahun wafat (M): 1998

Tahun wafat (H): 1418

Tanggal wafat (M): 14

Tanggal wafat (H): 16

Bulan wafat (M): Februari

Bulan wafat (H): Syawal


Kiai Haji Achmad Abdul Hamid Kendal adalah tokoh Nahdlatul Ulama yang berasal dari Kendal, Jawa Tengah, seorang pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah Kendal, sekaligus Imam Masjid Besar Kendal,merupakan seorang sahabat dari KH. Wahid Hasyim. KH. Ahmad Abdul Hamid Kendal adalah Pencetus dibangunnya Gedung PBNU, di jalan Kramat Raya Jakarta, Gedung 9 lantai seperti lambang NU lintang songo, namun beliau wafat sebelum pembangunan selesai.Tokoh yang menggagas lahirnya Silaturahim Ngumpulke Balung Pisah ini adalah sosok yang begitu rapi dalam menyimpan dokumen-dokumen penting Nahdlatul Ulama, salah satu yang sangat rapi disimpannya adalah dokumen-dokumen Buletin LINO (Lailatul Ijtima’ Nahdatoel Oelama). Selain itu, adalah juga seorang atlet olahraga yang baik dan pernah membawa obor api PON Mrapen.

Pada umumnya sebahagian umat Islam, mengakhiri ceramah atau surat-menyurat keagamaan dengan kalimat "Billahit taufiq wal-hidayah" atau "Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq” yang diucapkan atau ditulis sebelum salam penutup, "WWW" yang menjadi akronim dari "Wallahul muwaffiq ilaa aqwaamit thooriq Wassalamualaiku warohmatullohi Wabarokaatuh" telah menjadi identitas dan tradisi khas tersendiri bagi warga Nahdlatul Ulama.Kalimat itu selalu disebut, ditulis dan dibaca dalam tiap kegiatan formal maupun informal yang diadakan oleh warga NU, tetapi terkait siapa sosok kharismatik di balik kalimat tersebut tidak begitu populer, hingga salam itu menjadi demikian melekat erat dalam keseluruhan gerak nafas dan aktivitas warga Nahdliyin, adalah KH. Ahmad Abdul Hamid atau yang lebih dikenal dengan nama KH. Achmad Abdul Hamid Kendal yang menjadi pencipta kalimat tersebut.Sebelum kalimat "wallahul muwaffiq ila aqwamit-thariiq" diciptakan, sebelumnya beliau telah menciptakan terlebih dahulu istilah “Billahit taufiq wal-hidayah”. Namun karena kalimat tersebut kemudian digunakan oleh hampir semua kalangan umat Islam dan Golkar saat itu, maka beliau merasa kekhasan untuk orang NU tidak ada lagi, untuk itu diciptakan istilah baru, yakni "wallahul muwaffiq ila aqwamit thariiq" yang dirasakan cukup sulit ditirukan oleh orang non-NU.

Salah satu perusahan penerbitan nasional legendaris di Indonesia asal Kota Semarang, yakni PT. Karya Toha Putra, yang telah menerbitkan buku tuntunan shalat mencapai 50 juta cetakan dan merupakan perusahaan percetakan dan penerbitan buku bacaan kitab Al-Quran dan buku tentang agama Islam, pada awal perkembangannya adalah bermula dari mencetak dan mendistribusikan buku Yasin Tahlil karya KH. Achmad Abdul Hamid Kendal dengan oplah 5000 eksemplar perbulan.

"Ahmad bin Abdul Hamid lahir di kota Kendal pada tahun 1915 M. Ayahanda beliau bernama KH. Abdul Hamid"

Sekitar tahun kelahiran Ahmad bin Abdul Hamid, bangsa Indonesia marak dengan pembentukan kelompok atau organisasi, baik yang bersifat keagamaan, sosial, ekonomi, maupun politik. Pada 1912, lahir organisasi Muhammadiyah, kemudian, pada 1918 lahir Nahdlatul Tujjar yang konon merupakan cikal bakal organisasi Nahdlatul Ulama, berturut-turut, pada 1920-an bermunculan organisasi atau pergerakan, berubahnya SDI (Sarekat Dagang Islam) menjadi SI (Sarekat Islam), lahirnya NU, dan peristiwa sumpah pemuda.

Peran di NU

Kiprahnya di lingkungan NU dimulai dari tingkat daerah sampai PBNU. Beberapa posisi penting di NU yang pernah didudukinya adalah Rais Syuriyah PCNU Kendal, Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah (dengan Katib KH. Sahal Mahfudh), dan terakhir sebagai Mustasyar PBNU. Sejak tahun 1930-an, Kiai Achmad Abdul Hamid telah terlibat dalam penulisan dan penerbitan majalah Berita NO.

Kisah waktu di Pondok.

Kiai Ahmad ini multitalenta. Beliau penggemar olahraga. Penyuka sepakbola dan maraton. Di masa mudanya, ketika nyantri di Pondok Kasingan Rembang yang diasuh oleh KH Kholil Harun, beliau membentuk klubbal-balan. Posisinya striker. Jejak ketrengginasannya dalam mencetak gol dibuktikan tatkala di Kendal, pada Hari Pahlawan 1979, diadakan pertandingan antara veteran versus tim pemda. Tim veteran menang telak 5-1. Empat gol diantaranya diceploskan Kiai Ahmad, ulama yang pernah bergabung dalam Barisan Sabilillah semasa revolusi kemerdekaan. Dahsyat! Jangan heran jika di usia 72 tahun, Pengasuh Ponpes al-Hidayah Kendal itu masih sanggup lari jauh dan membawa obor PON XI di Jawa Tengah. Bahkan, fotonya ketika membawa obor dimuat di harian Wawasan, 9 Mei 1987, dan diberi ulasan dengan judul “KH Achmad Abdul Hamid, Kiai yang Olahragawan”. Karena pembawaannya yang supel, beliau banyak dekat dengan semua kalangan. Dari kiai, budayawan, para veteran perang kemerdekaan, hingga anggota klub jantung sehat, pecinta maraton, dan atlet sepakbola.Karena dekat dengan kalangan olahragawan, beliau juga diberi posisi sebagai Wakil Ketua KONI Jawa Tengah, pada suatu era. Nah, soal kegemarannya berolahraga ini ada suatu cerita lucu. Suatu ketika ada pengusaha yang mau meresmikan kolam renang umum miliknya. Karena itu, dia mengundang Kiai Ahmad. Awalnya beliau mengira diundang untuk membaca doa di akhir prosesi. Sayang, dugaan ini meleset. Karena Kiai Ahmad adalah seorang olah ragawan–dan untuk memenuhi unsur entertainment—maka diagendakan bagi beliau untuk melakukan “lompatan pertama” dari menara kolam. Tak tanggung-tanggung, sang pengusaha menghadiahkan sepotong celana renang untuk beliau kenakan bagi keperluan itu! Jelas, ini situasi yang sulit. Demi idkhalus surur (menyenangkan hati orang lain), Kiai Ahmad merasa tak sampai hati menyingkirkan celana renang pemberian si pengusaha. Tapi, celana itu tak cukup panjang untuk menutupi auratnya. Apa akal?Pada waktu yang ditentukan untuk acara peresmian itu, Kiai Ahmad tampil di puncak menara kolam, bercelana panjang, dengan celana renang dikenakan di luarnya laksana Superman! Terus terang, saya terbahak membaca cerita yang disampaikan oleh KH Yahya Cholil Tsaquf ini di buku humor “Terong Gosong: Ketawa Secara Serius” (Rembang: Mata Air, 2013), dan di buku karya Ahmad Fikri AF, “Tawa Show di Pesantren” (Yogyakarta: LKiS, 1999). Tentu, tawa saya berpadu dengan kekaguman terhadap pribadinya yang tulus, anti-gengsi dan mengemong masyarakat. Gagasannya menjaga kerukunan masyarakat tampak dalam realisasi ide Silaturahim Ngumpulke Balung Pisah, wadah agar masyarakat senantiasa rukun dan tidak kepaten obor silaturrahim. 

Satu lagi yang unik. Para sahabat Kiai Ahmad sewaktu berguru kepada KH Kholil Harun, Kasingan Rembang (1876-1939), rata-rata menjadi penyusun kitab berbahasa Jawa maupun penerjemah Arab-Jawa yang handal. Termasuk dua kakak adik Mufassir Jawa, KH Bisri Musthofa (1915-1977), KH Misbah Zainal Musthofa (1916-1994); serta KH Asrori Ahmad Magelang (1923-1994). Kiai Bisri Musthofa dan Kiai Asrori Ahmad bahkan diambil menantu oleh gurunya tersebut.


Karya tulis

Kecintaannya terhadap dunia tulis menulis juga ditunjukkannya dengan menulis dan menerjemahkan kitab-kitab yang kebanyakan ditulis dengan bahasa Jawa dalam tulisan Arab pegon. Lebih dari 20 kitab yang telah ditulisnya, meliputi bidang akidah, sejarah Islam, syariah, ke-NU-an maupun tuntunan dakwah Islam. Salah satu karyanya yang cukup fenomenal adalah terjemahan Qanun Asasi Hadlratus Syeikh Hasyim Asy’ari yang diterjemahkannya atas perintah dari Sekretaris Jenderal PBNU kala itu, KH. Saifudin Zuhri. Terjemahan tersebut telah dimulai oleh KH. Mahfudz Shiddiq tetapi tidak selesai sehingga PBNU meminta Kiai Achmad untuk menyelesaikannya. Terjemahan itu oleh Kiai Achmad dinamakan Ihyau Amalil Fudlala’ Fi Tarjamati Muqaddimatil Qanunil Asasi li-Jam’iyati Nahdlatil Ulama.

Berikut ini di antara karya Kiai Ahmad:

1. I’anatul Muhtaj fi Qisshati al-Isra’ wal Mi’raj. Berbahasa Jawa beraksara Arab Pegon. Diterbitkan oleh Karya Thoha Putra, Semarang. Kitab ini berisi ulasan peristiwa Isra’ dan Mi’raj berdasarkan sabda Rasulullah di berbagai kitab hadits.

2. Risalatun Nisa’/ Risalah al-Huquq al-Zaujain. Berbahasa Jawa beraksara Arab Pegon. Diterbitkan oleh al-Munawwar Semarang. Kitab ini berisi panduan berumah tangga dan tips menjadi keluarga sakinah.

3. Tashilut Thariq. Berbahasa Jawa beraksara Arab Pegon. Kitab ini ditulis pada saat Kiai Ahmad bermukim di Makkah selama empat tahun. Kitab yang mengulas panduan beribadah haji ini diberi kata pengantar oleh Syekh Yasin bin Isa al-Fadani, Syekh Abdul Jalil al-Muqaddasi, dan Syekh Abdullah bin Uzair Ad-Dimaki. 

4. Fasholatan Jawa. Kitab legendaris. Karena menurut Penerbit Karya Thoha Putra yang menerbitkannya, kitab ini telah terjual lebih dari 50 juta eksemplar sejak awal penerbitannya pada 1953. KH Raden Asnawi Kudus, yang juga memiliki karya Fasholatan, memberikan kata pengantar dalam buku ini dengan menggunakan syiir Jawa yang indah dan motivatif.

5. Fasholatan Sunda. Tidak berbeda dengan yang berbahasa Jawa yang mudah dipahami orang awam, Fasholatan atau kitab berisi tatacara shalat dan maknanya ini ditulis menggunakan bahasa Sunda. 

6. Sabilul Munji Fi Tarjamati Maulid al-Barzanji. Diterbitkan Penerbit Menara Kudus, kitab beraksara Arab-Pegon ini merupakan terjemah bahasa Jawa atas Maulid al-Barzanji. Gaya bahasanya sangat mudah dipahami orang awam.

7. Risalatus Shiyam. Ditulis dengan menggunakan aksara Arab-Pegon berbahasa Jawa, ulasan dalam buku ini sangat renyah dan mudah dikunyah orang awam sekalipun. Kiai Ahmad membahas hukum puasa, penentuan awal Ramadan, persoalan yang terjadi di dalam Idul Fitri, zakat, juga ulasan mengenai transaksi perdagangan menggunakan uang kertas. Kitab yang selesai ditulis pada 1956 ini diterbitkan oleh al-Munawwar Semarang.

8. Tuntunan Puasa. Buku ini merupakan versi bahasa Indonesia kitab Risalatus Shiyam. Kali ini diterbitkan oleh Karya Thoha Putra pada 1987, jauh setelah karya versi Jawa diterbitkan pada 1956. 

9. Terjemah Yasin, Waqi’ah dan al-Mulk. Sesuai judulnya, kitab ini merupakan terjemah berbahasa Jawa atas tiga surat al-Qur’an. Kiai Ahmad memulainya dengan menyertakan keteragangan hadits keutamaan membaca al-Qur’an dan ketiga surat tersebut.

10. Primbon Tahlil. Berisi Yasin dan fadhilahnya, tahlil, etika ziarah kubur, shalat mayyit, terjemah talqin, disertai dengan doa-doa dalam tradisi tahunan kaum muslimin (doa awal dan akhir tahun, nisfu sya’ban, doa asyura dan sebagainya).

11. Manarul Jum’ah. Berisi kumpulan materi khutbah Jum’at selama satu tahun. Ditulis menggunakan Aksara Arab-Pegon. Diterbitkan Pustaka Alawiyah Semarang.

12. Khutbah Jumat Pembangunan. Berisi kumpulan materi khutbah Jum’ah berbahasa Jawa. Ditulis menggunakan Aksara Arab-Pegon.

13. Miftahud Da’wah Wat-Ta’lim. 2 Jilid. Ditulis menggunakan bahasa Indonesia. Diterbitkan oleh Menara Kudus. Ulasan dalam buku ini bertema materi pokok di dalam kehidupan kemasyarakatan. Juga disertai dengan beberapa tema pembelaan terhadap amaliah Nahdliyin, seperti tahlil, tawassul, ziarah kubur, talqin, dan sebagainya. 

14. Surat Yasin dan Tahlil. Arab beserta terjemahan Indonesia. Terbit pada 1987. Disebarkan oleh Karya Thoha Putera Semarang.

15. ‘Aqidah Ahlissunnah wal Jama’ah. Kitab ini berisi terjemah Aqidatul Awam yang diberi judul Mursyidul Anam dengan ulasan utawi iki iku (makno gandul) dan dilanjutkan dengan menggunakan metode tanya jawab. Juga ulasan pengertian Ahlussunnah wal Jamaah menggunakan metode yang sama. Kitab ini juga berisi panduan Birul Walidain dan ‘Uququl Walidain berdasarkan hadits.

16. Manasikul Hajji wal Umrah. Panduan Umrah dan Haji Berbahasa Jawa. Versi lain dari Tashilut Thariq.

17. Tuntunan Shalat. Versi lain dari Fasholatan Jawa. Kali ini berbahasa Indonesia beraksara Arab-Pegon.

18. Tuntunan Menjadi Anak Soleh. Ulasan versi Indonesia kitab Birrul Walidain dan Uququl Walidain.

19. Tarikh Nabi. Sirah Nabawiyah yang dikemas dengan bahasa Jawa yang mudah dipahami.

20. Amalan Sehari-Hari. 

21. Risalah An-Nahdliyyah.

22. Risalah Sapu Jagat.

Tampaknya Kiai Ahmad mencontoh kreatifitas ayahnya, Syekh Abdul Hamid bin Ahmad al-Qandaly (w. 1348 H./1929 M.), yang juga produktif berkarya. Di antara kitab tulisan Syekh Hamid diterbitkan oleh Maktabah Haji Amin di Singapura, berjudul al-‘Uqudul Lu’luwiyyah: Terjemah Hadits Arbain Nawawiyyah (1348 H./1929 M). Sedangkan yang diterbitkan di Mesir, oleh Musthafa al-Babi al-Halabi berjudul Jawahirul Asani ‘ala Lujainid Dani, yang menguraikan biografi Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Karya ini diterbitkan pada 1344 H/1945 M.

Dan Beliau Kiai Achmad Abdul Hamid wafat pada 14 Februari 1998 bertepatan dengan 16 Syawal 1418 H.Tercatat, Haul ke-17 KH. Achmad Abdul Hamid Kendal yang dipusatkan di pemakaman umum Grabag, Desa Langenharjo, Kecamatan Kendal Kota dihadiri ribuan orang.

Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

1 Response to "Kiai Haji Achmad Abdul Hamid Kendal"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel