Adabul Alim Wal Muta'alim | BAB 5 Akhlak Ustadz Terhadap Diri Sendiri | KATA KATA HIKMAH [ AL HIKMAH ]

Adabul Alim Wal Muta'alim

ⒶⓁ ⒽⒾⓀⓂⒶⒽ

Adabul Alim Wal Muta'alim

(etika orang berilmu dan pencari ilmu)

Karya : 
Hadratussyekh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari

BAB 5 Akhlak Ustadz Terhadap Diri Sendiri


بسم الله الرحمن الرحيم


Mengenai akhlaq ustazd kepada diri sendiri ada dua puluh akhlaq, yaitu , hendaknya seorang ustazd :

Satu, selalu istiqamah dalam muraqabah kepada Allah SWT, baik ditempat yang sunyi atau ramai. Pengertian muraqabah ialah melihat Allah dengan mata hati dan menghubungkannya dengan perbuatan yang dilakukan selama ini, kemudian mengambil hikmahnya atau jalan yang terbaik bagi dirinya dengan mempertimbangkan dan merasakan tentang adanya pemantauan Tuhan kepadanya. Salah satu ciri muraqabah menurut Zunnun Al Misry adalah mengagungkan apa yang diagungkan oleh tuhan dan merendahkan apa yang direndahkan oleh Tuhan. Muraqabah merupakan salah satu dari sekian banyak tingkatan dan langkah dalam kesufian, selain khuf, raja’, tawadlu’, khusu’, zuhud’, dan sebagainya ( Lihat Risalah Al Qusyairiya: 189-191 ).

Dua , Senantiasa berlaku khauf ( takut kepada Allah ) dalam segala ucapan dan tindakanya, baik ditempat yang sunyi atau tempat ramai, karena orang yang alaim (ustazd) adalah orang yang selalu dapat menjaga amanat, dapat dipercaya terhadap sesuatu yang dititipkan kepadanya, baik itu berupa ilmu, hikmah, dan perasaan takut kepada Allah. Sedangkan kebalikan dari hal tersebut diatas dinamakan khianat. Allah telah berfirman dalam Al Qur’an yang artinya :

Janganlah kalian semua mengkhianati terhaap Allah dan rasul-Nya dan engkau semua telah mengkhianati terhadap amanat-amanat kalian , sedangkan engkau mengetahuinya.

Maksud dari khauf disini adalah takut terhadap kemungkinan azab dari Tuhan, didunia atau diakhirat. Dasar yang diapaki adalah firman Allah dalam surat Al Imran ayat 175, tujuannya adalah agar manusia bisa mempertimbangkan tingkah lakunya. Abd. Qasin mengatakan, “ siapa yang takut kepada sesuatu, maka ia akan berlari darinya, tetapi takut kepada Allah justru semakin mendekati-Nya ( Risalah Al Qusyairi, 125-126 ).

Tiga, Senantiasa bersikap tenang

Empat, Senantiasa bersikap wira’i.

Wira’I menurut Ibrahim ibn Adham, adalah meninggalkan setiap perkara subhat sekaligus meninggalkan setiap perkara yang tidak bermanfaat yakni perkara yang sia-sia. Sedangkan menurut Yusuf ibn Abid, wara’ adalah keluar dari setiap perkara subhat dan mengoreksi diri dalam setiap keadaan. ( Risalah Qusairi, 109-111 )

Lima, Selalu bersikap tawadlu’.

Syaikh Junaidi menyatakan bahwa, tawadlu’ adalah merendahkan diri terhadap makhluq dan melembutkan diri kepada mereka , atau patuh kepada kebenaran dan tidak berpaling dari hikmah , hukum, dan kebijaksaan. ( Risalah Qusairi, 145-148 ).

Enam, Selalu bersikap khusu’ kepada Allah SWT.

Salah satu isi surat yang ditulis oleh imam Malik kepada Harus Al Rasyid adalah :” Apabila engkau mengerti tentang ilmu , maka hendaknya engkau bisa melihat pengaruh yang ditimbulkan oleh ilmu tersebut, wibawa, tenang dan dermawa. Karena Rasulullah telah bersabda bahwa : para ulama’ itu pewaris para nabi “.

Sahabat Umar berkata :” Pelajarilah ilmu dan pelajarilah bersama-sama sehin gga bis menimbulkan sifat wibawa dan sifat tenang “. Sebagian ulama’ salaf mengakatakan bahwa :” kewajiban orang-orang yang mempunyai ilmu adalah selalu merendahkan diri kepada Allah AWT, baik ditempat sunyi atau ditempat ramai, menjaga terhadap dirinya sendiri, menghentikan setiap sesuatu yang dirasa menyulitkan dirinya sendiri.

Maksud dari khusu’ di atas adalah stabilnya hati dalam menghadap kebenaran, namun sebagian ulama yang menagatakan bahwa khusu’ adalah membelenggu mata dari melihat sesuatu yang tidak pantas.

Tujuh, Menjadikan Allah sebagai tempat meminta pertolongan dalam segala keadaan.

Delapan, Tidak menjadikan ilmunya sebagai tangga untuk mencapai keuntungan yang besifat duniawi, baik berupa jabatan, harta, didengar oleh orang banyak, terkenal, lebih maju dibandingkan dengan teman yang lainnya;

Sembilan, Tidak mengagungkan santri-santri karena berasal dari anak penguasa dunia ( pejabat, konglomerat, dan lain-lain) seperti mendatangi mereka untuk keperluan pendidikannya atau bekerja untuk kepentingannya, kecuali jika ada kemaslahatan yang bisa diharapakan yang melebihi kehinaan ini, terutama guru pergi kerumah atau letempat-tempat orang yang belajar kepadanya ( santri ), meskipun murid itu mempunyai kedudukan yang angat tinggi, pejabat tinggi dan sebagainya.

Bahkan yang harus dilakukan oleh seorang guru adalah ia harus mampu menjaga kewibawaan ilmu yang ia miliki, seperti yang telah dilakukan oleh para ulama’ salafussalihin. Berita yang berhubungan dengan mereka sangat baik , tidak pernah ada berita yang mendiskriditkan mereka , karena mereka mampu menjaga ilmunya dari godaan dunia, walaupun mereka tidak pernah mengambil jarak terhadap para penguasa masa itu atau yang lainya.

Seperti yang diriwayatkan oleh Imam Malik bin Anas, suatu ketika beliau mendatangi raja Harun Al Rasyid untuk berkunjung kekediamannya , kemudian Harun Al Rasyid berkata kepadanya :” Hai Aba Abdillah, seharusnya engkau mondar mandir ketempat tinggalku ini sehingga anak-anaka kecilku bisa mendengarkan kitab Muattha’ darimu. Iamam Malik berkata : mudah-mudahan Allah memberikan berkah kepadamu wahai raja Harun Al Rasyid, sesungguhnya ilmu ini telah menyebar ditengah masyarakat.

Apabila engkau memulyakan ilmu ini maka ia akan menjadi mulia, namun sebaliknya apabila meremehkan ilmu ini , maka ia pun akan dihina oleh orang. Ilmu pengetahuan harus didatangi oleh orang yang mencarinya, bukan sebaliknya ilmu yang mendatangi pelajar ( santri ), kemudian Harus Al Rasyid berkata, engkau benar. Keluar kalian semua dimasjid-masjid sehingga kalian semuanya bisa mendengarnya bersama orang lain.

Al Zuhry berkata :” sebuah kehinaan bagi ilmu apabila ia dibawa olrh orang-orang yang alim kerumah-rumah muridnya, kecuali ada hal-hal yang memaksanya, atau dalam keadaan dlarurat, serta adanya kemaslahatan yang lebih banyak dari pada mafsadat ( kerusakan ) nya. Maka untuk memberikan ilmu diirumah orng yang membutuhkannya tidak akan menjadi masalah ( dosa ) selam alasan atau illat tersebut masih ada. Argumentasi ini juga dipaakai oleh sebagian ulama’ salaf untuk menyebarkan ilmu .

Secara umum dapat disimpulkan bahwa barang siapa yang mengagungka ilmu , maka ia akan di agungkan oleh Allah SWT, dan barang siapa yang meremehkan ilmu, maka ia akan dihina oleh Allah. Hal ini sudah banyak dan terbukti di tengah-tengah masyarakat.

Wahb bin Munabbah telah berkata :” ulama’ sebelum kita , mereka semuannya merasa cukup dengan ilmu yang mereka miliki sehingga mereka tidak membutuhkan harta dunia, karena mereka sangat mencintai terhadap ilmu. Sedangkan orang-orang yang ahli ilmu, orang yang pandai, cendikiawan, kaum cerdik pandai pada zaman sekarang, mereka mengabdikan ilmunya kepada orang-orang yang bergelimangan dengan harta dunia, para konglomerat, para pejabat, karena mereka sangat mencintai pada harta dunia mereka, sehingga mereka menjadi orang –orang yang kaya raya namun selalu zuhud terhadap ilmu yang ia miliki , hanya memiliki sedikit ilmu ketika mereka melihat posisi dirinya yang tidak menguntungkan, lantas menjual ilmu demi kemewahan harta dunia.

Sepuluh, berakhlaq dengan zuhud terhadap harta dunia, dan hanya mengambil sedikit dar idunia hanya sekedar memenuhi kebutuhan hidupnya semata, tidak membahayakan terhadap dirinya sendiri, keluarganya, dengan cara sderhana dan selalu qana’ah.

Penegrtian zuhud di sini adalah menolak kesenangan atau kecintaan. Sedangkan menurut Abu Sulaiman Ad Daroni zuhud adalah meninggalkan segaka sesutau memalingkan diri dari Tuhan. Atau , mengosongkan hati dari dorongan ingin tambah lebih dari kebutuhan dan menghilangkan ketergantungan terhadap makhluq. Jelasnya zuhud adalah menganggap remeh terhadap dunia dan segala perhiasan serta urusannya. Dengan hati seperti ini orang yang zuhud tidak akan terpikat oleh persoalan duniawi dan tidak merasa sedih atas kekurangannya , sehingga ia menjadi lebih bisa berkonsentrasi dalam zikir kepada Allah SWT dan kehidupan akhirat.

Paling sedikit derajatnya orang yang alim (ustazd ) adalah meninggalkan semua hal-hal yang berhubungan dengan harta duniawi dan menganggap sebagai barang kotor, karena ia lebih mengetahui terhadap kerendahan harta dunia, harta dunia sering menimbulkan fitnah, pertengkaran antar sesama, cepat musnah dan untuk memperoleh harta dunia diperlukan kerja extra keras, dan susah payah, sebagai seorang guru sudah semestinya tidak terlalu memperhatikannya , apalagi sampai memperhatikan dan menyibukkan diri dengan urusan dunia.

Diriwayatkan dari nabi Muhammad SAW, :” sungguh sangat mulia sekali orang oramg yang bersikap qana’ah, menerima apa adanya terhadap harta dunia,. Dan sungguh hina sekali orang yang selalu tama’, mengharapkan terlalu berlebihan pada harta.

Diriwayatkandari syafi’I r.a. : seandainya orang yang berwasiat hanya pada orang yang cerdas akalnya, maka niscaya wasiat tersebut akan diarahkan, diberikan kepada orang orang yang ahli zuhud ( tapa ). Aku bersumpah pada pribadi aku sendiri : Siapakah yang lebih berhak untuk diberi rahmat berupa kelebihan akal dan kesempurnaan akal dari pada ulama’ .

Yahya bin Mu’az berkata:” seandainya harta dunia itu berupa mas murni dan akhirat itu berupa pecahan genting ( kereweng ) yang bersifat abadi ( kekal ), maka niscaya orang-orang yang mempunyai akal akan lebih suka memilih pecahan genteng yang tahan lama dari pada emas murni yang punah , hilang tak berbekas.

Terus bagaimana jadinya sekarang, dalam kenyataan , bahwa ; harta dunia itu ibarat pecahan genting yang cepat hancur , sedangkan akhirat ibarat mas murni yang tidak pernah hancur, kekal selama-lamanya.

Sudah sepantasnya bagi orang-orang yang mengerti, bahwa harta dunia itu akan di tinggalkan oleh pemiiknya dan di tinggalkan pada ahli warisnya, disamping itu banyak musibah yang menghantam, dan menimpa pada harta benda, bahwa sifat zuhudnya mestinya lebih tinggi, kuat di abndingkan dengan kecintaannya pada harta dunia, meninggalkkan harta mestinya lkebih diprioritaskan dari pada mencari harta .

Sebelas, Menjauhkan diri dari usaha—usaha yang rendah dan hina menurut watak manusia, juga dari hal-hal yang dibenci oleh syari’at atau adat istiadat ( kebiasaan ). Seperti berbekam ( mengeluarkan darah dari anggota badan dengan menggunakan alat melalui kepala atau tengkuk ), menyamak kulit, penukaran mata uang ( money Changger ), tuang membuat emas dan sebagainya.

Dua belas, Menjauhkan diri dari tempat-tempat yang kotor ( maksiat ) , meskipun tempat tersebut jauh dari tempat keramaian, dan tidak berbuat sesuatu yang dapat mengurangi sifat muru’ah ( menjaga diri dari hal-hal yang tidak terpuji ) dan tidak diperbolehkan ukuran zahir, walupun dalam segi bathinya di perbolehkan, karena hal itu akan menimbulakn dampak, ekses yang kurang baik terhadap dirinya, kewibaannya, dan menjadi bahan perbincangan yang jelek bagi orang lain sehingga menimbulkan dosa bagi orang yang mengolok-oloknya.

Apabila hal itu terjadi hanya secara kebetulan belaka, karena adanya hajat, keperluan atau yang lainya, maka hendaknya ia memberitahu kepada orang yang melihatnya dan menjelaskannya tentang hukum , alasannya serta maksud kedatangannya, sehingga orang lain tidak mersa berdosa atau menghindarkan diri sehingga ia tidak bisa mengambil manfaat dari sebuah ilmu, dan hendaknya hal itu bissa dipakai pelajaran bagi orang-orang yang bodoh.

Berkenaan dengan hal ini, rosulullah berkata : surtu ketika ada dua orang laki-laki yang berpapasan dengan nabi Saw, ketika beliau bersama-sama dengan Shafiyyah binti Huyay, kemudia meeka berdua berjalan denga pelan-pelan, kemudian ia berkata : perempuan itu adalah Shafiyah binti Huyay. Kemudian nabi berkata : sesungguhnya syaitan itu masuk kedalam diri manusia ( keturunan Adam ) melewati peredaran darah, aku kuatir syaitan menjatuhkan sesuatu dalam diri mereka berdua sehingga mereka menjadi rusak “.

Tiga belas, menjaga dirinya dengan Beramal dengan memperhatikan syi’ar syiar islam dan zahir-zahir hukum, seperti melakukan shalat berjamaah dimasjid, menyebarkan salam baik kepada orang khusu atau umum, amar ma’ruf nahi munkar dan sebagianya sera sabar dalam menerima cobaan.

Berkata yang hak, mengatakn kebenaran kepada para penguasa, para pejabat, dan sepenuhnya menyerahkan dirinya kepada allah SWT dan tidak takut kepada cercaan dan caci makian orang lain, serta terus menerus mengingat firman Allah yang berbunyi ; Dan bersabarlah engkau atas sesuatu yang telah menimpamu, sesungguhnya pada perkara tersebut terdapat perkara yang meguatkan.

Dan hal-hal yang telah terjadi pada rasul dan para nabi yang lain misalnya merekaselalu bersabar atas cobaan yang menimpa mereka, dan perkara yang mereka tanggung karena allah, seperti ingkarnya pengikut pada nabi seperti kisahnya nabi Adam dan anak-anaknya, nabi Tsis serta kaumnya, nabi Nuh dan Hud beserta kaumnya, nabi Ibrahim ketika berhadapan dengan raja Namrud dan ayahnya, nabi Ya’qub bersama anaknya, nabi Yusuf bersama saudara-saudaranya, nabi Ayyub serta cobaan yang beliau terima dari Allah SWT, nabi Musa bersama bani israil ketika mereka telah selamat dari laut merah , nabi Isa ketika bersama para kaumnya yang mendapat hidangan, santapan makanan langsung dari lagit., dan Nabi Muhammad SAW beserta kaumnya , para sahabatnya ketika membagi harga ghanimah ( rampasan ) dalam perang hudaibiyah. Kemudian nabi berkata ; mudah-mudahan Allah mengasihi saudara aku yakni nabi Musa a.s. , ia telah di coba oleh Allah dengan lebih banyak cobaan dari yang aku terima namun ia tetap sabar, kemudian hal-hal yang telah dialami oleh sahabat Abu Bakar, ketika beliau di tinggal mati oleh nabi SAW dan para sahabatnya, kemudian ketika menghadapi orang-orang yang murtad, kemudian hal-hal yang dialami oleh para sahabat , seperti berbuat kasarpada orang yang kasar karena perbedaan pandangan yang terjadi dianatara mereka, kemudian para tabi’in dan pengikutnya tabi’in sampai sekarang ini. Pada diri mereka mengandung suri tauladan, uswah yang baik yang patut di contoh sebagai pelajar.

Empat belas, Bertindak dengan menampakkan sunnah-sunnah yang terbaik dan segala hal yang mengandung kemaslahatan kaum muslimin melalui jalan yang dibenarkan oleh syari’at agama islam, baik dalam tradisi atau pada watak.

Seorang ustazd tidak boleh rela, hanya melakukan perbuatan-perbuatan yang bersifat lahiriah dan bathiniah semata, bahkan ia harus memaksa dirinya untuk melakukan hal yang terbaik dan sempurna, karena ustazd merupakan panutan , mereka di pakai sebagai barometer, sumber rujukan dalam setiap permasalahan yang berhubungan dengan hukum.

Ustazd adalah hujjatullah terhadap orang-orang yang tidak mengerti ( bodoh ) , dan terkadang gerak gerik mereka selalu diawasi, dipantau tampa sepengetahuan mereka., sehingga nasehat-nasehat mereka selalu diikuti, dianut oleh orang yang tidak menegerti.

Apabila ustazd tidak bisa mengambil sebuah manfaat dari ilmu yang ia miliki sendiri , apalagi orang lain , tentu lebih tidak bisa memanfaatkan ilmu. Oleh karena itu kesalahan, kekeliruan walaupun hanya kecil akan berubah menjadi sesuatu yang sangat luar biasa , karena adanya unsur saling keterkaitan dari kerusakan itu karena ustazd adalah barometer, tolak ukur yang sudah barang tentu ia akan menjadi panutan bagi orang –orangt awam, kalau ia berbuat salah maka ia akan diikuti orang banyak sehingga menjadi dhollu wa adlollu, sesat menyesatkan lagi.

Lima belas, membiasakan diri untuk melakukan kesunahan yang besifat syari’at, baik qauliyah atau fi’liyah. Seperti membaca al Qur,an, zdikir kepada Allah SWT baik didalam hati atau lisan , membaca do’a dan zikiran kepada Allah baik siag atau malam, menunaikan shalat dan puasa, melaksanakan ibdah haji kalau memungkinkan dan sebagainya.

Membaca shalawat kepada nabi, mencintainya, mengagungknnya, memulyakannya, dan memakai etika dan sopan santun yang baik ketika mendengar nama beliau, dan tradisi-tradisi beliau disebutkan.

Enam belas, Bergaul dengan orang lain dengan akhlaq yang baik seperti menampakkan wajah yang berseri-seri, ceria, menyebar luaskan salam , memberikan makanan, menahan rasa amarah dalam jiwa, menahan diri agar tidak menyakiti orang lain, menanggung dan bersabar apabila disakiti oleh orang lain, mendahulukan oramg lain, tidak meminta orang lain supaya mengutamakan dirinya, mengabdi kepada orang lain, tidak mau dirinya dijadikan sebagai tuan, mensyukuri terhadap kenikamatan yang telah diberikan oleh Allah kepada dirinya, membuat dirinya sendiri menjadi tenang, berusaha untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya, mempertaruhkan jabatan, pangkat untuk menolong orang lain , belas kasihan kepada fakir miskin, selalu mengasihi kepada para tetangga, sanak kerabat, selau mengasihi kepada para murid, menolog dan berbuat baik kepada meeka. Apabila ustazd melihat sseorang yang tidak bisa mengerjakan shalat, bersuci dengan sempurna atau keawjiban-kewajiban yang lain, maka ia memberikan pengarahan, petunjuk dengan lemah lembut, sebagaimana yang telahdilkaukan oleh nabi kepada orang-orang a’raby ( orang dusun ) ketikaia kencing di dalam masjid, dan bersama Mu’awiyah bin Hakam ketika dalam keadaan shalat sambil berbicara.

Tujuh belas, membersihkan hati dan tindakanya dari akhlaq-akhlaq yang jelek dan diteruskan untuk merealisasikanya dalam perbuatan-perbuatan yang konkrit dan baik. Termasuk akhlaq yang tidak baik, rendah adalah; hasud, khianat, marah bukan kaena Allah, menipu, sombong, riya’, membanggakan diri, supaya didengar orang, pelit, angkuh, tamak, menyombongkam diri sendiri, boros, bermewah-mewahan, berhias diri dihadapan orang lain, senang di puji oleh orang lain terhadap sesutau yang tidak pernah ia kerjakan, pura-pura tidak tahu terhadap aibnya sendiri, selau memperhatikan aib orang lain, urakan, terlalu panatik pada sesuatu selain Allah ( Ta’assub ), suka membicarakan orang lain, mengadu domba, berbohobg, berkata jelek, dan menghina orang lain.

Ustazd harus menghindarkan diri dari sifat-sifat yang jelek dan budi pekerti yang tidak baik, karena sifat yang telah disebutkan di atas merupakan pintu dari setiap kejelekan, bahkan seluruh kejelekan berawal dan masuk dari sifat tersbut.

Sebagian para ulama’ dan para ahli fiqh yang mempunyai hati yang jelek sebagaian bsear di coba oleh Allah dengan sifat-sifat tersebut diatas, kecuali orang yang di jaga angsung oleh Allah SWT, terutama sifat hasud, membanggakan diri sendiri ( ujub ) , riya’ dan sombong.

Beberapa obat dari berbagai macam penyakit ini telah dijelaskandalam kitab yang memuat tentanh halusnya watak ( kutub al raqa’iq ). Barang siapa yang hendak mensucikan dirinya dari penyakit tersebut, maka hendaknya ia memiliki kitab tersebut.

Termasuk kitab yang paling penting dan paling halus yaitu kitab “ bidayah al hidayah “ karya dari imam Al Ghazali r.a.

Termasuk cara untuk mengobati penyakit hasud adalah ; selalu berfikir bahwa hasud itu selalu bertentangan dengan allah

Termasuk cara untuk mengobati penyakit ujub adalah selalu mengingat bahwa ilmu yang diperolehnya , pehaman yang dimilikinya , akal yang cerdas dan baik, serta kafasihan lisan dalam mengucapkan kata-kata dan lainnya , segala kenikmatan yang diperolehnya semuanya berasal dari allah SWT, dan merupakan amanat yang harus dipergang dan dijaganya supaya bisa menjaga dengan sebaik-baiknya.

Dan ssungguhnya zdat yang memberi amanat tersebut untuk dititipkan kepada seseorang adalah Zdat yang Maha kuasa, yang mampu mengambil dan menariknya dari pemiliknya dalam sekejap mata , tiada lain adalah selain Allah Yang Maha Luhur. Apakah kalian semua sudah merasa aman dari dari tipu daya Tuhan, maka tidak ada seorang pun yang aman dari daya upaya Tuhan kecuali orang-orang yang merugi.

Termasuk cara untuk mengobati penyakit riya’ adalah selalu berfikir, berangan-angan bahwa semua makhluq yang ada di alam marca pada ini, dilaut, di angkasa, dan di darat tidak ada yang bisa memberikan manfaat pada sesuatu yang tidak diputuskan oleh Allah, serta tidak bisa membahayakan terhadap sesuatu yang tidak dikehendaki oleh Allah. Oleh karena itu kenapa dia menghilangkan, melebur dan menghapuskan terhadap amal ibadahnya sendiri, membahayakan terhadap dirinya sendiri, melakukan aktifitas, kesibukan dan berusaha untuk memperhatikan orang yang tidak menguasai, tidak bisa memberikan kemanfaatan dan bahaya secara hakiki, padahal Allah telah menampakkan niat dan kejelekan hati pada diri mereka, sebagaimana yang telah diungkapkan dalam sebuah hadits :

“Barang siapa yang mempunyai niatan supaya didengar oleh orang lain, maka Allah akan memperdengarkannya, dan barang siapa yang memamerkan dirinya , maka Allah juga akan menampakkan sifat pamer orang tersebut”.

Termasuk cara untuk mengobati penyakit suka menghina orang lain adalah selalu berangan-angan terhadap firman Allah yang berbunyi :

“ Dan janganlah suatu kaum menghina terhadap kaum yang lain, barang kali kaum yang kedua itu lebih baik dari kaum pertama “.

firman Allah ;

“Wahai manusia, sesungguhnya kami menciptakan engkau dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan engkau berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya engkau saling kenal mengena. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara engkau disisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara engkau. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyayang. ( Q.S. Al Hujurat; 13 )

Dan firman allah ;

“dan janganlah kalian memuji terhadap diri sendiri karena sesungguhnya Allah lebih mengetahui orang-orang yang lebih taqwa “.

Sebab terkadang orang yang dihina itu hatinya lebih bersih disisi Allah dan lebih suci tindak tanduknya, amal perbuatannya dan niatnya lebih ikhlas, sebagaimana yang dikatakan dalam sebuah sya’ir ;

Janganlah engkau menghina orang yang hina di dunia ini

Terkadang orang yang hina itu justru lebih mulia

Allah itu merahasiakan tiga perkara dalam tiga perkara juga, yaitu ;

Satu, kekasih Allah dalam hambanya,

Dua, ridha Allah dalam rasa taat dan taqwa,

Tiga, murka allah didalam maksiat kepada Allah.

Termasuk salah satu kategori akhlaq mardliyyah, akhlaq yang di ridhai oleh Allah adalah memperbanyak taubat, ikhjlas, yakin, taqwa, sabar, ridha, qana’ah ( menerima apa adanya ) , zuhud, tawakkal, menyerahkan diri kepada Allah, hati yang baik, berprasangka baik, memaafkan, budi pekerti yang baik, melihat hal-hal yang bagus, mensyukuri terhadap nikmat Allah, kasih akung terhadap makhluq Allah, memiliki sifat malu baik kepada Allah, manusia, takut dan mengharap kepada Allah.

Mencintai Allah ( mahabbah ila Allah ) salah satu kunci untuk memiliki sifat-sifat yang baik , rasa cinta, mahabbah kepada Allah akan bisa diaktualisasikan dengan cara mencintai dan menjalankan tradisi-tradisi yang telah dijalankan oleh baginda rosulillah SAW, karena allah sendiri telah berfirman dalam Al Qur’an;

“Katakanlah hai Muhammad, apabila kalian semua mencintai Allah, maka ikutlah kalian kepadaku maka Allah akan mencintai kalian dan Allah akan mengampuni segala dosa-dosa kalian “.

Delapan belas, senantiasa bersemangat dalam mencapai perkembanagn keilmuan dirinya dan berusaha dengan bersungguh sungguh dalam setiap akitivitas ibadahnya, misalnya membaca, membacakan orang lain, muthalaa’h, mengingat-ingat pelajaran, memberi makna kitab, menghafalkan, dan berdiskusi dan tidak menyia-nyiakan umurnya dan waktunya sehingga tidak ada waktu yang terbuang kecuali dalam kerangka thalabul ilmi, kecuali hanya sekedar untuk keperluan ala kadarnya ( hajatul basyariyah ), seperti makan, minum, tidur, istirahat karena bosan atau penat, melaksanakan kewajiban suami istri, menemui orang yang bersilatur rahim, mencari maisyah, kebutuhan hidup yang diperlukan oleh setiap manusia, sakit, dan sebagainya serta aktifitas-aktifitas diperbolehkan .

Sebagian ulama’ salaf , mereka tidak pernah meninggalkan untuk mempelejari, menelaah dan mengkaji kitab salaf hanya karena menderia penyakit yang tidak terlalu berat ( ringan ), bahkan mereka mengharapkan kesembuhan penyakitnya dengan belajar, dan selalu melakukan aktifitas ilmu selama memungkinkan. Rasulullah sendiri telah bersabda :

“Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung dari niat, karena derajat sebuah ilmu merupakan warisan derajatnya para nabi “.

Keluruhan derajat sebuah ilmu tidak akan bisa diraih oleh pelajar kecuali dengan kesulitan dan masyaqqat.

Dalam kitab Shahih Bukhari disebutkan riwayat dari Yahya Bin Katsir, ia berkata ; bahwa ilmu tidaka bisa dikuasai hanya dengan santai dan ongkang-ongkang kaki.

Dalam hadits yang lain juga disebutkan bawa : surga itu selalu dikelilingi oleh hal-hal yang dibenci oleh hawa nafsu.

Dalam sebuah syi’ir dikatakan , bahwa :

Keluhuran ilmu tidak bisa engkau kehendaki dengan biaya yang murah

Namun hanya bisa memperoleh sengatan lebah

Imam Syafi’I r.a. berkata : bahwa kewajiban orang yang ahli ilmu , orang yang pandai, menguasai banyak ilmu penngetahuan adalah untuk menyampaikan ilmu yang ia miliki sekuat kemampuanya serta menujmbuh kembangkan ilmunya, sabar terhadap segala cobaan, rintangan dan sesuatu yang baru datang ketika dalam pencarian ilmu dan berproses untuk mencari jati dirinya, selalu di lambarai dengan niat yang ikhlas ketika ia menggapai sebuah ilmu , baik itu berupa nash ( al Quar’an dan Al Hadits ) atau dalam istimbath hukum, megambil dalil sebuah hukum berdasarkan syara’, selalu mencintai Allah SWT dalam rangka membantu orang yang mempunyai ilmu. Nabi Muhammad telah bersabda : terimalah segala sesuatu yang bisa memberikan nilai anfa’, manfaat kepada dirimu dan minta pertolonganlah kepada Allah SWT.

Sembilan belas, mengambil pelajaran dan hikmah apapun dri setiap orang tampa membeda-bedakan status , baik itu berupa jabatan, nasab, umur dan persoalan yang lainya. Bahkan ia harsu selalu menerima hikmah itu dimanapun ia berada, karena sesugguhnya hkimah itu adalah iabarat harta benda orang mukmin yang hilang yang diambilnya dimanapun ia menemukannya.

Sa’ad bin Jubair berkata, seorang lelaki selalu mendapat sebutan orang yang alim selama ia berusaha untuk belajar, namun apabila ia meninggalkan belajar dan menyangka bahwa ia adalah orang yang tidak memerlukan, tidak membutuhkan terhadap ilmu , maka sebenarnya ia adalah orang yang paling bodoh . Sebagian orang-orang arab membacakan sebuah syi’ir yang berbunyi :

Orang buta bukanlah orang selalu lama ketika bertanya

orang buta yang sempurna adalah

orang yang terlalu lama diam karena kebodohanya sendiri

adalah sekolompok orang dari ulama’ salaf , mereka mempelajari dan mengambil ilmu hikmah dan menggunakan kesempatan kepada para santrinya untuk mencari ilmu ilmu yang tidak mereka miliki, kemudian hal itu dibenarkan oleh golongan para sahabat dan para tabi’in.

Kemudian kabar tersebut telah sampa juga kepada baginda Rosulullah SAW dengan melalui Ubayy Bin Ka’ab r.a., kemudian nabi berkata : aku telah mendapat perintah dari Allah SWT untuk membacakan kepadamu sebuah surat, yaitu surat lam yaqunillazina kafarauu . Kemudian para ulama’ berkata bahwa; termasuk faidah dari ayat tersebut adalah orang yang mulia tidak boleh mencegah untuk menjadi santri, murid, dan mengambil ilmu dari orang yang lebih mulia.

Al Humady, berkata ; ia merupakan salah satu dari muridnya imam Syafi’I,. Ia mengatakan bahwa; aku menemani iman Syafi’I mulai dari kota Makkah sampai ke kota Mesir, aku selalu mengambil hikmah, yaitu aku menanyakan kepada beliau beberapa masalah , kemudia beliau ( syafi’I ) juga menanyakan masalah hadits kepada aku.

Ahmad bin Hanbal telah berkata ; Imam Syafi’I berkata kepada aku , kalian lebih alim, lebih mengetahui tentang ilmu hadits dari pada aku, oleh karena itu apabila ada sebuah hadits yang shahih tolong sampaikan pada aku , dan aku akan mengambilnya.

Dua puluh, membiasakan diri menyusun atau merangkum kitab, jika memang mempunyai keahlian dalam bidang itu, karena apabila hal itu dilakukan , maka akan membuat seorang guru selalu menelaah, mempelajari hakikat keilmuan baik yang tersurat atau yang tersirat dan pada akhirnya dapat memperdalam esensi keilmuan dan juga banyak manfaat yang diperolehnya.

Sebagaimana yang telah dikatakan oleh Al Khatib aAl Bagfhdadi, bahwa membuat karya tulis, merangkum, meresume akan menguatkan hafalan seseorang, mencerdaskan akal fikiran, mempertajam daya nalar , mengembangkan argumentasi , mengahasilkan nama yang harum, nama yang baik, besar pahalanya sampai hari kiamat.

Yang paling utama adalah hendaknya menprioritaskan sesuatu yang manfaatnya lebih umum sehingga bisa untuk dinikmati oleh orang lain, disamping itu sangat dibutuhkan oleh masyarakat luas..

Dalam membuat kerya tulis , hendaknya jangan terlalu memperpanjang pembahasan sehingga menimbulkan kebosanan terhadap orang yang membaca, tidak terlalu pendek sehingga subsatansinya tidak bisa dimengerti yang membaca, dan selalu menyerahkan , memberikan karya tulisnya yang layak, pantas untuk diberikan kepada orang lain. Jangan sampai memberikan karya tulis tersebut sebelum diteliti, di telaah, dan di tashih dengan baik.

Pada masa-masa sekarang ini ,di antara ummat manusia, pastilah ada orang yang tidak menghendaki, mengingkari terhadap karya tulis , walaupun karangan itu dihasilkan oleh orang-orang keilmuanya sudah tidak perlu diragukan lagi, dikenal dikalangan masyarakat banyak. Dalam kasus seperti ini tidak ada alasan yang dapat dibenarkan ,kecuali ia hanya membual pada masa seperti sekarangf ini. Namu apabila tidak ada satu alasan pun yang bisa dipakai sebagai pembenar, maka bagi orang yang menekuni karya tulis menulis , mempunyai profesi sebagai penulis , baik berupa tulisan sebuah sya’ir, cerita-cerita atau yang lainya, hendaknya ia tidak di tentang, terlebih lagi apabila yang ditulis adalah sebuah karya yang bisa di ambil manfaatnya, hikmahnya, seperti menulis ilmu yang berhubungan ilmu syara’ , dan media atau alat yang dipakai untuk mendalami syari’at agama .

Sedangkan orang-orang yang tidak mempunyai keahlian dalam sebuah ilmu pengetahuan, maka diharapkan untuk menigngkari dan menentangnya, karena didalamnya pasti mengandung unsur pembodohan, dan menipu orang yang membaca karya tulis tersebut, disamping itu ia menyia-nyiakan waktunya terhadap sesuatu yang tidak bisa menberikan kontribusi dan keyakinan yang baik pada dirinya , hal ini mestinya lebih layak dilakukan terhadap dirinya.
Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

0 Response to "Adabul Alim Wal Muta'alim | BAB 5 Akhlak Ustadz Terhadap Diri Sendiri | KATA KATA HIKMAH [ AL HIKMAH ]"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel