jadwal-sholat


Memuat artikel...

Qiroati Metode Membaca Al-Qur'an

 Metode Qiroati



KH. Dahlan Salim Zarkasyi adalah pencipta metode baca Al-Qur'an "Qiroati". Metode ini bertujuan agar santri bisa membaca Al-Qur'an dengan lancar, tepat, cepat, dan benar sesuai ilmu tajwid, tanpa mengeja setiap huruf. Ia mulai menyusun metode ini pada tahun 1963 dan selesai pada 1968, yang kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh KH. As'ad Humam menjadi metode Iqra'. 

Pencipta metode: KH. Dahlan Salim Zarkasyi adalah pendidik yang menciptakan metode Qiroati.

Tujuan: Metode Qiroati bertujuan untuk membaca Al-Qur'an secara lancar, tepat, cepat, dan benar sesuai tajwid tanpa mengeja.

Tahun penyusunan: Metode ini dimulai dari tahun 1963 dan selesai pada tahun 1968.




Pengembangan: Setelah metode Qiroati, KH. As'ad Humam mengembangkan metode ini menjadi Iqra' di Yogyakarta.

Perkembangan awal: Metode ini awalnya berupa 10 jilid buku.

Pemberian nama: Nama "Qiroati" (yang berarti "bacaanku") diberikan atas saran dari Ustadz Achmad Djunaidi dan Ustadz Syukri Taufiq. 


Dikisahkan, suatu saat, KH. Dachlan Salim Zarkasyi merasa gelisah saat mengenalkan huruf Al-Qur’an dengan Kaidah Baghdadiyah kepada murid-muridnya. Sebab, para murid merasa kesulitan. Senafas dengan itu, Kyai Dachlan telah mengamati banyak murid memiliki bacaan lancar, tetapi tidak sesuai dengan standar tajwid. Atas kegelisahan tersebut, Kyai Dachlan berinisiatif merumuskan metode baca Al-Qur’an sendiri sebagai jalan keluar dari permasalahan di tengah masyarakat.


Untuk nama metodenya, Kyai Dachlan Salim Zarkasyi pernah meminta kepada dua orang ulama di sekitar kediamannya, yaitu Ustadz A. Joned dan Ustadz Syukri Taufiq, yang secara terpisah dan kebetulan mengusulkan penyebutan metode ini dengan nama Qira’ati yang artinya Bacaanku.


Kata “Qira’ati” dalam pandangan ilmu nahwu, dapat diartikan (1) Iqra’ Qira’ati artinya ‘bacalah bacaanku’, (2) Itba’ Qira’ati: ‘ikutilah bacaanku’. Berasal dari kedua usulan nama tersebut, Kyai Dachlan memutuskan metode baru cara baca Al-Qur’an diberi nama Qira’ati. Harapannya, dengan metode baru itu, menjadikan para murid lebih praktis dalam membaca Al-Qur’an.



Adapun Tujuh qiraat


Tujuh qiraat adalah bacaan Al-Qur'an yang dinisbatkan kepada tujuh imam qiraat terkemuka: Nafi', Ibnu Katsir, Abu 'Amr, Ibnu 'Amir, 'Ashim, Hamzah, dan Al-Kisa'i. Masing-masing imam ini memiliki dua perawi yang meriwayatkan bacaan mereka. 

Imam Nafi': (dari Madinah) dengan perawi Qalun dan Warsy. 

Imam Ibnu Katsir: (dari Mekkah) dengan perawi Al-Bazzi dan Qunbul. 

Imam Abu 'Amr: (dari Basra) dengan perawi Ad-Duri dan As-Susi. 

Imam Ibnu 'Amir: (dari Syam/Damaskus) dengan perawi Hisyam dan Ibnu Dzakwan. 

Imam 'Ashim: (dari Kufah) dengan perawi Syu'bah dan Hafs. 

Imam Hamzah: (dari Kufah) dengan perawi Khallad dan Khalaf. 

Imam Al-Kisa'i: (dari Kufah) dengan perawi Al-Layth dan Ad-Duri. 


Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

0 Response to "Qiroati Metode Membaca Al-Qur'an"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel