jadwal-sholat


Memuat artikel...

Santri yang Berilmu – Kemuliaan Guru dan Orang Berilmu dalam Al-Qur’an dan Hadits

  


Santri yang Berilmu – Kemuliaan Guru dan Orang Berilmu dalam Al-Qur’an dan Hadits

Ilmu dalam Islam bukan sekadar pengetahuan, tetapi cahaya yang menghidupkan hati, membimbing amal, dan mengangkat derajat manusia. Dalam tradisi pesantren, santri yang berilmu selalu diarahkan untuk menghormati guru dan menuntut ilmu dengan adab, karena kemuliaan ilmu tidak bisa dipisahkan dari kemuliaan orang yang mengajarkannya.

Artikel ini membahas kedudukan orang berilmu, kemuliaan guru, serta dalil dari Al-Qur’an dan Hadits yang menjadi dasar utama.


1. Kedudukan Tinggi Orang Berilmu dalam Al-Qur’an

Allah SWT secara tegas meninggikan derajat orang yang berilmu.

Dalil Al-Qur’an:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah: 11)

Makna pentingnya:

  • Ilmu mengangkat derajat manusia

  • Orang berilmu lebih mulia di sisi Allah

  • Iman dan ilmu berjalan bersama


2. Perbedaan Orang Berilmu dan Tidak Berilmu

Allah menegaskan bahwa tidak sama antara yang mengetahui dan yang tidak mengetahui.

Dalil Al-Qur’an:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
“Katakanlah: apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan yang tidak mengetahui?”
(QS. Az-Zumar: 9)

Makna:

  • Ilmu adalah pembeda utama

  • Orang berilmu memiliki arah hidup yang jelas

  • Kebodohan menyebabkan kesesatan


3. Kemuliaan Guru dalam Islam

Guru (ustadz, kyai, mu’allim) adalah perantara ilmu. Dalam Islam, menghormati guru adalah bagian dari adab menuntut ilmu.

Hadits Nabi SAW:

إِنَّمَا بُعِثْتُ مُعَلِّمًا
“Sesungguhnya aku diutus sebagai seorang pengajar.”
(HR. Ibnu Majah)

Makna:

  • Rasulullah SAW sendiri adalah guru utama umat

  • Mengajar ilmu adalah tugas mulia

  • Guru mewarisi peran kenabian dalam ilmu


4. Adab Santri kepada Guru

Dalam tradisi santri, adab lebih didahulukan daripada ilmu.

Adab penting:

  • Hormat dan tidak membantah tanpa ilmu

  • Mendengarkan dengan sungguh-sungguh

  • Tidak meninggikan suara di hadapan guru

  • Mendoakan guru

Dalil Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ
“Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi.”
(QS. Al-Hujurat: 2)


5. Keutamaan Menuntut Ilmu

Menuntut ilmu adalah jalan menuju surga.

Hadits Nabi SAW:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim)

Makna:

  • Ilmu adalah jalan menuju keselamatan akhirat

  • Setiap langkah belajar bernilai ibadah

  • Santri memiliki kedudukan istimewa


6. Ilmu sebagai Cahaya Kehidupan

Ilmu dalam Islam disebut sebagai nur (cahaya).

Dalil Al-Qur’an:

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
“Allah adalah cahaya langit dan bumi.”
(QS. An-Nur: 35)

Makna simbolik:

  • Ilmu menerangi hati dari kebodohan

  • Menjadi petunjuk dalam mengambil keputusan

  • Menghindarkan dari kesesatan


7. Santri dan Tanggung Jawab Ilmu

Santri yang sudah berilmu memiliki tanggung jawab besar:

  • Mengamalkan ilmu

  • Mengajarkan kepada orang lain

  • Menjadi contoh akhlak

  • Menjaga amanah ilmu

Hadits Nabi SAW:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
“Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.”
(HR. Bukhari)


Secara spesifik, istilah guru didefinisikan sebagai seorang pengajar dan pendidik profesional di lembaga pendidikan formal dengan kualifikasi tertentu dan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik, baik di tingkat dasar maupun menengah. Namun dalam definisi lebih luas, siapa saja yang memberikan pengetahuan dan mengajarkan suatu ilmu adalah guru walaupun di luar lingkungan lembaga pendidikan formal. Berbicara tentang guru tentu tidak bisa dilepaskan dari sosok seorang yang berilmu, berwawasan luas di bidang tertentu, berjasa mengantarkan orang lain kepada kebaikan, dan mencegahnya dari keburukan. Sebab, hanya orang-orang berilmu, berwawasan luas, dan menginginkan orang lain menjadi baik, yang mampu menjalankan tugas-tugas tersebut. Sebagai agama yang mulia, Islam mendorong sekali umatnya menjadi seorang pendidik yang berilmu, menyuruh kepada kebaikan, mencegah dari keburukan. Bahkan, mereka digolongkan sebagai orang-orang beruntung, baik di dunia maupun di akhirat. Hal itu seperti tercermin dalam salah satu ayat Al-Quran, Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung, (Surat Ali ‘Imran ayat 104). Ayat itu juga didukung oleh pesan Rasulullah saw. kepada Abu Darda, “Jadilah engkau sebagai orang berilmu, atau pembelajar, atau penyimak ilmu, atau pecinta ilmu. Namun jangan jadi yang kelima, niscaya engkau celaka,” (HR Al-Baihaqi). Di mana ada anjuran, pasti ada keutamaan. Demikian halnya anjuran menjadi orang yang berilmu. Berikut adalah ayat-ayat yang menyebutkan keutaman orang-orang berilmu. Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan demikian), (Surat Ali ‘Imran ayat 18). Perhatikanlah ayat ini. Allah menyandarkan pernyataan-Nya kepada diri-Nya, kemudian kepada para malaikat, dan kepada orang-orang berilmu. Cukup mulialah mereka yang disandingkan dengan yang mulia, apalagi Yang Maha Mulia. Ayat yang cukup populer dan mengangkat kedudukan orang berilmu adalah, Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat, (Surat Al-Mujadilah ayat 11). Kaitan dengan ayat ini, Ibnu ‘Abbas menambahkan, “Orang-orang yang berilmu memiliki kedudukan tujuh ratus derajat di atas orang-orang mukmin.” Sebab, keunggulan mereka salah satunya karena takut kepada Allah, Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang yang berilmu(ulama), (Surat Fathir ayat 28). Tak hanya itu, orang-orang berilmu juga diberi amanah untuk menyampaikan pesan-pesan-Nya dan menjadi tempat bertanya, sebagaimana dalam ayat, Berkatalah orang-orang yang dikaruniai ilmu, “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang- orang yang sabar," (Surat Al-Qashash ayat 80); Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai ilmu pengetahuan, (Surat An-Nahl [16-34). Masih banyak lagi ayat yang menunjukkan kedudukan dan keutamaan mereka. Sementara dalam hadits, kedudukan dan keutamaan orang berilmu dapat kita jumpai dalam puluhan, bahkan mungkin ratusan sabda Rasulullah saw. Antara lain adalah, “Para ulama itu pewaris para nabi.” Bayangkan, betapa tingginya kedudukan orang berilmu, hingga menyandang gelar sebagai pewaris para nabi. Sedangkan tidak ada kedudukan yang lebih tinggi di atas para nabi dan rasul. Keunggulan lainnya adalah orang berilmu juga dimintakan ampunan oleh semua yang ada di langit dan bumi. Di antaranya oleh para malaikat. Bahkan, dalam hadits lain, disebutkan, “Siapa saja yang dikehendaki Allah menjadi orang baik, maka ia mulai diberi pemahaman dalam urusan agama (ilmu).” Kemudian kematian mereka dianggap sebagai duka yang sangat mendalam, bahkan menjadi pertanda kian dekatnya hari Kiamat, “Di antara pertanda Kiamat adalah hilangnya ilmu.” (HR. Abu Dawud). Sementara hilangnya ilmu, menurut hadits lain, terjadi dengan kematian orang-orang yang berilmu. Di alam kubur mereka juga mendapat pahala yang terus mengalir. Hal itu sebagaimana yang diungkap dalam hadits, “Jika seorang insan meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali tiga amal: sedekah yang mengalir, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang selalu mendoakan,” HR. Al-Tirmidzi). Sebagai orang yang merintis dan mengajak kebaikan, guru dan orang berilmu juga berhak mendapat balasan sebagaimana yang digambarkan dalam sabda Rasulullah saw., “Siapa saja yang menempuh jalan kebaikan, maka dia mendapat pahalanya, sekaligus pahala orang yang turut mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun,” (HR. Ibnu Abi Syaibah). “Demi Allah, jika Allah memberi petunjuk kepada satu orang berkat ajakanmu maka itu jauh lebih baik (bagimu) daripada kekayaan paling berharga,” (H.R. al-Bukhari dan Muslim). Di akhirat, orang yang berilmu dan mengajarkan ilmunya juga mendapat perlakuan istimewa dibanding yang lain. Salah satunya masuk surga tanpa hisab. Hadits riwayat Ibnu ‘Abdil Barr juga menyatakan, “Pada hari Kiamat, tinta orang-orang yang berilmu ditimbang dengan darah para syuhada.” Sementara menurut hadits lain, golongan yang diberi kesempatan memberikan syafa'at, di samping para nabi dan para syuhada, adalah orang-orang berilmu. Demikian sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Majah. Demikian kemuliaan dan keutamaan guru dan orang berilmu di mata Allah dan rasul-Nya. Selamat hari guru kepada para guru! Semoga Allah membalas setiap tetes keringatmu dengan pembalasan yang berlipat-lipat. Wallahu a’lam.    


Penutup

Kemuliaan guru dan orang berilmu dalam Islam sangat tinggi. Santri yang berilmu bukan hanya dituntut pintar, tetapi juga beradab, rendah hati, dan mengamalkan ilmunya.

Ilmu tanpa adab akan hilang keberkahannya, sedangkan adab akan menjaga ilmu tetap hidup.

Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

0 Response to "Santri yang Berilmu – Kemuliaan Guru dan Orang Berilmu dalam Al-Qur’an dan Hadits"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel