jadwal-sholat


Memuat artikel...

TAFSIR BASMALAH

   TAFSIR BASMALAH 

 بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ


"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang"



Tafsir Basmalah (بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ): Makna, Penjelasan Ulama, dan Hikmah dalam Kehidupan


Tafsir Basmalah lengkap menurut ulama, makna “Bismillahirrahmanirrahim”, kandungan nama Allah Ar-Rahman dan Ar-Rahim, serta hikmah membaca basmalah dalam kehidupan sehari-hari.


Pendahuluan

Basmalah adalah kalimat yang sangat sering diucapkan oleh umat Islam:

بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

Kalimat ini tidak hanya sekadar pembuka dalam Al-Qur’an, tetapi juga memiliki makna yang sangat dalam, mencakup tauhid, doa, dan pengakuan ketergantungan manusia kepada Allah.

Dalam artikel ini, kita akan membahas tafsir basmalah secara lengkap, mulai dari makna kata, pandangan ulama tafsir, hingga hikmah yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.


Makna Lafal Basmalah

Basmalah terdiri dari empat bagian utama:

1. Bi (بِ) – “Dengan”

Huruf bi menunjukkan permohonan pertolongan dan keberkahan. Artinya, seseorang memulai segala sesuatu dengan mengharap bantuan Allah.

2. Ism (ٱسْمِ) – “Nama”

Mengandung makna bahwa seorang hamba memulai segala aktivitas dengan menyebut nama Allah, bukan dengan kekuatan dirinya sendiri.

3. Allah (ٱللَّٰه) – Nama Tuhan Yang Maha Esa

Ini adalah nama paling agung yang mencakup seluruh sifat kesempurnaan Allah.

4. Ar-Rahman dan Ar-Rahim

Dua sifat kasih sayang Allah:

  • Ar-Rahman: Rahmat Allah yang luas untuk seluruh makhluk di dunia.

  • Ar-Rahim: Rahmat Allah yang khusus bagi orang beriman di akhirat.


Tafsir Basmalah Menurut Ulama

1. Tafsir Imam At-Thabari

Menurut Imam At-Thabari, basmalah berarti seorang hamba memulai segala urusan dengan meminta keberkahan dan pertolongan Allah. Beliau menegaskan bahwa setiap perbuatan yang tidak diawali dengan nama Allah akan terputus dari keberkahan.


2. Tafsir Imam Al-Qurthubi

Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa basmalah mengandung pengakuan tauhid, yaitu bahwa hanya Allah satu-satunya yang berhak disembah dan dimintai pertolongan.

Ia juga menekankan bahwa penyebutan Ar-Rahman dan Ar-Rahim menunjukkan luasnya kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya.


3. Tafsir Ibnu Katsir

Menurut Ibnu Katsir, basmalah adalah bentuk permohonan pertolongan kepada Allah dalam setiap aktivitas. Beliau menegaskan bahwa semua urusan sebaiknya dimulai dengan menyebut nama Allah agar mendapat keberkahan.


4. Tafsir Fakhruddin Ar-Razi

Fakhruddin Ar-Razi menyoroti aspek filosofis basmalah. Menurut beliau, basmalah menunjukkan bahwa manusia tidak memiliki kekuatan apa pun tanpa Allah, sehingga setiap tindakan harus bersandar kepada-Nya.


Makna “Ar-Rahman” dan “Ar-Rahim”

Kedua nama Allah ini sering disebut bersamaan, tetapi memiliki makna yang berbeda:

Ar-Rahman

  • Rahmat Allah yang bersifat umum

  • Diberikan kepada semua makhluk, baik mukmin maupun non-mukmin

  • Contoh: udara, rezeki, kesehatan

Ar-Rahim

  • Rahmat Allah yang bersifat khusus

  • Diberikan kepada orang beriman di akhirat

  • Contoh: surga dan ampunan


Hikmah Membaca Basmalah

1. Mendapat Keberkahan

Segala aktivitas yang diawali basmalah akan mendapatkan keberkahan dari Allah.

2. Perlindungan dari Setan

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa setan tidak akan ikut dalam pekerjaan yang diawali dengan nama Allah.

3. Menumbuhkan Kesadaran Spiritual

Basmalah membuat seseorang sadar bahwa ia selalu diawasi dan dibantu oleh Allah.

4. Menenangkan Hati

Menyebut nama Allah memberikan ketenangan dalam setiap aktivitas.


Kapan Membaca Basmalah?

Basmalah dianjurkan dibaca dalam berbagai aktivitas, seperti:

  • Sebelum makan dan minum

  • Sebelum belajar atau bekerja

  • Sebelum bepergian

  • Saat memulai ibadah

  • Dalam setiap aktivitas baik lainnya

Namun, ada pengecualian dalam kondisi tertentu seperti di dalam toilet atau tempat najis.


Basmalah dalam Al-Qur’an

Basmalah menjadi ayat pertama dalam Surah Al-Fatihah, yang merupakan pembuka Al-Qur’an. Ini menunjukkan bahwa seluruh petunjuk dalam Al-Qur’an diawali dengan kasih sayang Allah.

Sebagian ulama juga menyebut bahwa basmalah mengandung inti dari seluruh ajaran Islam: tauhid, rahmat, dan ketundukan kepada Allah.





Firman Allah Bismillahirrahmaanirrahiim “Artinya : Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” Jar majrur (bi ismi) di awal ayat berkaitan dengan kata kerja yang tersembunyi setelahnya sesuai dengan jenis aktifitas yang sedang dikerjakan. Misalnya anda membaca basmalah ketika hendak makan, maka takdir kalimatnya adalah : “Dengan menyebut nama Allah aku makan”. Kita katakan (dalam kaidah bahasa Arab) bahwa jar majrur harus memiliki kaitan dengan kata yang tersembunyi setelahnya, karena keduanya adalah ma’mul. Sedang setiap ma’mul harus memiliki ‘amil. 





Ada dua fungsi mengapa kita letakkan kata kerja yang tersembunyi itu di belakang. 


Pertama : Tabarruk (mengharap berkah) dengan mendahulukan asma Allah Azza wa Jalla. 



Kedua : Pembatasan maksud, karena meletakkan ‘amil dibelakang berfungsi membatasi makna. Seolah engkau berkata : “Aku tidak makan dengan menyebut nama siapapun untuk mengharap berkah dengannya dan untuk meminta pertolongan darinya selain nama Allah Azza wa Jalla”. 

Kata tersembunyi itu kita ambil dari kata kerja ‘amal (dalam istilah nahwu) itu pada asalnya adalah kata kerja. Ahli nahwu tentu sudah mengetahui masalah ini. 

Oleh karena itulah kata benda tidak bisa menjadi ‘ami’l kecuali apabila telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Lalu mengapa kita katakan : “Kata kerja setelahnya disesuaikan dengan jenis pekerjaan yang sedang dikerjakan”, karena lebih tepat kepada yang dimaksud. 



Oleh sebab itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Artinya : Barangsiapa yang belum menyembelih, maka jika menyembelih hendaklah ia menyembelih dengan menyebut nama Allah “[1] Atau : “Hendaklah ia menyembelih atas nama Allah” [2] Kata kerja, yakni ‘menyembelih’, disebutkan secara khusus disitu. Lafzhul Jalalah (Allah). Merupakan nama bagi Allah Rabbul Alamin, selain Allah tidak boleh diberi nama denganNya. Nama ‘Allah’ merupakan asal, adapun nama-nama Allah selainnya adalah tabi’ (cabang darinya). Ar-Rahmaan Yakni yang memiliki kasih sayang yang maha luas. Oleh sebab itu, disebutkan dalam wazan fa’laan,  menunjukkan keluasannya. Ar-Rahiim Yakni yang mencurahkan kasih sayang kepada hamba-hamba yang dikehendakiNya. 

Oleh sebab itu, disebutkan dalam wazan fa’iil, yang menunjukkan telah terlaksananya curahan kasih saying tersebut. Di sini ada dua penunjukan kasih sayang, yaitu kasih sayang merupakan sifat Allah, seperti yang terkandung dalam nama ‘Ar-Rahmaan’ dan kasih sayang yang merupakan perbuatan Allah, yakni mencurahkan kasih sayang kepada orang-orang yang disayangiNya, seperti yang terkandung dalam nama ‘Ar-Rahiim’. Jadi, Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiiim adalah dua Asma’ Allah yang menunjukkan Dzat, sifat kasih sayang dan pengaruhnya, yaitu hikmah yang merupakan konsekuensi dari sifat ini. Kasih sayang yang Allah tetapkan bagi diriNya bersifat hakiki berdasarkan dalil wahyu dan akal sehat. 

Adapun dalil wahyu, seperti yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang penetapan sifat Ar-Rahmah (kasih sayang) bagi Allah, dan itu banyak sekali. Adapun dalil akal sehat, seluruh nikmat yang kita terima dan musibah yang terhindar dari kita merupakan salah satu bukti curahan kasih sayang Allah kepada kita. Sebagian orang mengingkari sifat kasih sayang Allah yang hakiki ini. 

Mereka mengartikan kasih sayang di sini dengan pemberian nikmat atau kehendak memberi nikmat atau kehendak memberi nikmat. 

Menurut akal mereka mustahil Allah memiliki sifat kasih sayang. Mereka berkata : “Alasannya, sifat kasih sayang menunjukkan adanya kecondongan, kelemahan, ketundukan dan kelunakan. Dan semua itu tidak layak bagi Allah”. Bantahan terhadap mereka dari dua sisi. Pertama : Kasih sayang itu tidak selalu disertai ketundukan, rasa iba dan kelemahan. Kita lihat raja-raja yang kuat, mereka memiliki kasih sayang tanpa disertai hal itu semua. 

Kedua : Kalaupun hal-hal tersebut merupakan konsekuensi sifat kasih sayang, maka hanya berlaku pada sifat kasih sayang yang dimiliki makhluk. Adapun sifat kasih sayang yang dimiliki Al-Khaliq Subhanahu wa Ta’ala adalah yang sesuai dengan kemahaagungan, kemahabesaran dan kekuasanNya.

Sifat yang tidak akan berkonsekuensi negative dan cela sama sekali. Kemudian kita katakan kepada mereka : Sesungguhnya akal sehat telah menunjukkan adanya sifat kasih sayang yang hakiki bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pemandangan yang sering kita saksikan pada makhluk hidup, berupa kasih sayang di antara mereka, jelas menunjukkan adanya kasih sayang Allah. Karena kasih sayang merupakan sifat yang sempurna. Dan Allah lebih berhak memiliki sifat yang sempurna. Kemudian sering juga kita saksikan kasih sayang Allah secara khusus, misalnya turunnya hujan, berakhirnya masa paceklik dan lain sebagainya yang menunjukkan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lucunya, orang-orang yang mengingkari sifat kasih sayang Allah yang hakiki dengan alasan tidak dapat diterima akal atau mustahil menurut akal, justru menetapkan sifat iradah (berkehendak) yang hakiki dengan argumentasi akal yang lebih samar daripada argumentasi akal dalam menetapkan sifat kasih sayang bagi Allah. Mereka berkata : “Keistimewaan yang diberikan kepada sebagian makhluk yang membedakannya dengan yang lain menurut akal menunjukkan sifat iradah”. Tidak syak lagi hal itu benar. Akan tetapi hal tersebut lebih samar disbanding dengan tanda-tanda adanya kasih sayang Allah. Karena hal tersebut hanya dapat diketahui oleh orang-orang yang pintar.

 Adapun tanda-tanda kasih sayang Allah dapat diketahui oleh semua orang, tidak terkecuali orang awam. Jika anda bertanya kepada seorang awam tentang hujan yang turun tadi malam : “Berkat siapakah turunnya hujan tadi malam ?” Ia pasti menjawab : “berkat karunia Allah dan rahmatNya” MASALAH Apakah basmalah termasuk ayat dalam surat Al-Fatihah ataukah bukan ? Dalam masalah ini para ulama berbeda pendapat. 

Ada yang berpendapat bahwa basmalah termasuk ayat dalam surat Al-Fatihah, harus dibaca jahr (dikeraskan bacaannya) dalam shalat dan berpendapat tidak sah shalat tanpa membaca basmalah, sebab masih termasuk dalam surat Al-Fatihah. 

Sebagian ulama lain berpendapat, basmalah tidak termasuk dalam surat Al-Fatihah. Namun ayat yang berdiri sendiri dalam Al-Qur’an. Inilah pendapat yang benar. 

Pendapat ini berdasarkan nash dan rangkaian ayat dalam surat ini. Adapun dasar di dalam nash, telah diriwayatkan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. “Artinya : Aku membagi shalat (yakni surat Al-Fatihah) menjadi dua bagian, separuh untuk-Ku dan separuh untuk hamba-Ku. Apabila ia membaca : “Segala puji bagi Allah”. Maka Allah menjawab : “Hamba-Ku telah memuji-Ku”. Apabila ia membaca : “Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Maka Allah menjawab: “Hamba-Ku telah menyanjung-Ku”. Apabila ia membaca : “Penguasa hari pembalasan”. Maka Allah menjawab : “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku”. Apabila ia membaca : “ Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan”. Maka Allah menjawab : “Ini separoh untuk-Ku dan separoh untuk hamba-Ku”. Apabila ia membaca : “Tunjukilah kami kepada jalan yang lurus”. Maka Allah menjawab : “Ini untuk hamba-Ku, akan Aku kabulkan apa yang ia minta” [3] Ini semacam penegasan bahwa basmalah bukan termasuk dalam surat Al-Fatihah. Dalam kitab Ash-Shahih diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyalahu ‘anhu, ia berkata : “Aku pernah shalat malam bermakmum di belakang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman Radhiyallahu ‘anhum. Mereka semua membuka shalat dengan membaca : “Alhamdulillaahi Rabbil ‘Aalamin” dan tidak membaca ; ‘Bismillaahirrahmaanirrahiim” di awal bacaan maupun di akhirnya. [4] Maksudnya mereka tidak mengeraskan bacaannya. 

Membedakan antara basmalah dengan hamdalah dalam hal dikeraskan dan tidaknya menunjukkan bahwa basmalah tidak termasuk dalam surat Al-Fatihah. 

[Disalin dari kitab Tafsir Juz ‘Amma, edisi Indonesia Tafsir Juz ‘Amma, penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, penerjemah Abu Ihsan Al-Atsari, penerbit At-Tibyan – Solo] 

Baca juga : 

Minhajul Abidin karya Imam Al Ghozali


________ Foot Note

 [1]. Hadits riwayat Al-Bukhari, dalam kitab Al-Idain, bab : Ucapan Imam dan makmum ketika khutbah ‘ied, no. (985). Diriwayatkan pula oleh Muslim dalam kitab Al-Adhahi, bab : Waktu Udhiyah no. (1), (1960) 


[2]. Hadits riwayat Al-Bukhari dalam kitab Adz-Dzabaih wa Ash-Shaid, bab : Sabda Nabi, “Sembelihlah dengan menyebut asma Allah”. no. (5500). Diriwayatkan pula oleh Muslim dalam kitab Al-Adhahi, bab : waktu Udhhiyah, no. (2). (1960) 

[3]. Hadits riwayat Muslim dalam kitab Shalat, bab : Kewajiban membaca Al-Fatihah di setiap raka’at no. (38) (395) 

[4]. Hadits riwayat Muslim dalam kitab Shalat, bab : Argumentasi orang-orang yang berpendapat bacaan basmalah tidak dikeraskan, no. (52) (399).


Kesimpulan

Tafsir basmalah menunjukkan bahwa kalimat ini bukan sekadar ucapan pembuka, tetapi sebuah bentuk:

  • Pengakuan ketergantungan kepada Allah

  • Permohonan pertolongan dan keberkahan

  • Penegasan tauhid

  • Manifestasi kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya

Dengan memahami makna basmalah, kita tidak hanya mengucapkannya secara lisan, tetapi juga menghayatinya dalam setiap langkah kehidupan.


Semoga bermanfaat. 

Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

0 Response to "TAFSIR BASMALAH "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel