Bijaksana
Bijaksana dalam Perspektif Islam dan Filosofi Jawa
Sifat bijaksana merupakan salah satu akhlak mulia yang sangat dihormati dalam kehidupan manusia. Orang bijaksana bukan hanya pandai berbicara, tetapi mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya, tenang dalam mengambil keputusan, lembut dalam bersikap, dan adil dalam bertindak. Dalam Islam, kebijaksanaan disebut dengan istilah hikmah, sedangkan dalam budaya Jawa dikenal dengan sikap wicaksana, eling lan waspada, serta andhap asor.
Artikel tentang kebijaksanaan di situs ALHIKMAH.MY.ID juga menyinggung bahwa orang bijak adalah mereka yang lebih mengutamakan akhirat daripada dunia dan mampu menjaga dirinya dari keburukan. (alhikmah.my.id)
Pengertian Bijaksana
Bijaksana adalah kemampuan menggunakan akal, ilmu, hati, dan pengalaman untuk menghasilkan keputusan yang benar serta membawa manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.
Dalam bahasa Arab, kebijaksanaan disebut:
الحِكْمَةُ
(Al-Hikmah)
Artinya: kebijaksanaan, kecerdasan dalam bertindak, dan ketepatan dalam mengambil keputusan.
Allah SWT berfirman:
يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا
“Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak.”
(QS. Al-Baqarah: 269)
Ayat ini menunjukkan bahwa kebijaksanaan adalah anugerah besar dari Allah SWT.
Ciri-Ciri Orang Bijaksana
1. Tenang dalam menghadapi masalah
Orang bijaksana tidak mudah marah atau gegabah.
Rasulullah SAW bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang kuat bukanlah yang menang bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Kebijaksanaan lahir dari kemampuan menguasai emosi.
2. Berbicara seperlunya
Pepatah Jawa mengatakan:
“Ajining diri saka lathi.”
Artinya:
Harga diri seseorang terlihat dari lisannya.
Orang bijak menjaga ucapan karena sadar bahwa kata-kata bisa menyembuhkan ataupun melukai.
Allah SWT berfirman:
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
“Berkatalah yang baik kepada manusia.”
(QS. Al-Baqarah: 83)
3. Rendah hati
Filosofi Jawa mengenal istilah:
Andhap Asor
Yaitu sikap rendah hati dan tidak sombong walaupun memiliki ilmu tinggi.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ تَوَاضَعَ لِلَّهِ رَفَعَهُ اللَّهُ
“Barangsiapa rendah hati karena Allah, maka Allah akan meninggikan derajatnya.”
(HR. Muslim)
Kebijaksanaan dalam Filosofi Jawa
Budaya Jawa sangat kaya dengan ajaran kebijaksanaan hidup. Nilai-nilai ini diwariskan para leluhur agar manusia hidup harmonis dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
1. Eling lan Waspada
Artinya:
Selalu ingat kepada Allah dan berhati-hati dalam hidup.
Filosofi ini mengajarkan bahwa manusia tidak boleh lupa diri ketika mendapatkan kekuasaan, harta, ataupun ilmu.
Dalam Islam, konsep ini sejalan dengan dzikir dan takwa.
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ
“Ingatlah kepada-Ku, maka Aku akan mengingat kalian.”
(QS. Al-Baqarah: 152)
2. Urip iku Urup
Artinya:
“Hidup itu harus memberi nyala/manfaat.”
Orang bijaksana hidup bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga bermanfaat bagi orang lain.
Rasulullah SAW bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad)
3. Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti
Maknanya:
Kekuatan dan kekerasan akan kalah oleh kelembutan dan kasih sayang.
Ini mengajarkan bahwa kebijaksanaan lebih kuat daripada amarah.
Allah SWT berfirman:
ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Balaslah keburukan dengan cara yang lebih baik.”
(QS. Fussilat: 34)
4. Ojo Dumeh
Artinya:
Jangan mentang-mentang.
Jangan sombong karena jabatan, kekayaan, kecerdasan, ataupun keturunan.
Nilai ini sangat dekat dengan ajaran Islam tentang larangan takabur.
إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.”
(QS. An-Nahl: 23)
Tingkatan Kebijaksanaan
Bijaksana terhadap diri sendiri
Menjaga hati
Mengendalikan hawa nafsu
Tidak berlebihan dalam hidup
Bijaksana terhadap orang lain
Menghargai pendapat
Tidak mudah menghakimi
Mau memaafkan
Bijaksana terhadap alam
Filosofi Jawa mengajarkan harmoni dengan alam.
Islam juga melarang kerusakan bumi:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ
“Janganlah kalian membuat kerusakan di bumi.”
(QS. Al-A’raf: 56)
Cara Menjadi Orang Bijaksana
1. Banyak belajar
Ilmu membuka jalan menuju hikmah.
2. Mau mendengar nasihat
Orang bijak tidak merasa paling benar.
3. Menjaga emosi
Marah yang tidak terkendali merusak kebijaksanaan.
4. Mendekat kepada Allah
Semakin dekat kepada Allah, hati semakin tenang.
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Kebijaksanaan Para Ulama dan Leluhur Jawa
Dalam tradisi pesantren Nusantara yang banyak dibahas di ALHIKMAH.MY.ID, kebijaksanaan para ulama selalu ditunjukkan melalui kelembutan dakwah, kesabaran, dan penghormatan terhadap budaya lokal. (alhikmah.my.id)
Walisongo berdakwah dengan cara damai, santun, dan penuh hikmah. Mereka tidak memaksa, tetapi mengajak masyarakat dengan pendekatan budaya, seni, dan akhlak mulia.
Hal ini menjadi contoh nyata bahwa kebijaksanaan mampu melahirkan perubahan besar tanpa kekerasan.
Penutup
Bijaksana bukan berarti mengetahui segalanya, tetapi mampu bersikap benar dalam setiap keadaan. Orang bijak selalu berpikir sebelum bertindak, menjaga lisan, rendah hati, dan mengutamakan kemaslahatan bersama.
Islam mengajarkan hikmah sebagai cahaya kehidupan, sedangkan filosofi Jawa mengajarkan keseimbangan antara hati, pikiran, dan perilaku. Bila keduanya dipadukan, lahirlah pribadi yang lembut, kuat, dan penuh manfaat bagi sesama.
Pepatah Jawa mengatakan:
“Sepi ing pamrih, rame ing gawe.”
Artinya:
Tidak haus pujian, tetapi banyak bekerja dan memberi manfaat.
Semoga kita semua menjadi manusia yang memiliki hikmah, kebijaksanaan, serta hati yang selalu dekat kepada Allah SWT.

0 Response to "Bijaksana"
Post a Comment