jadwal-sholat


Memuat artikel...

RMI NU - Sejarah dan Tokoh Penting

 RMI NU 






RMI NU didirikan pada 10 Muharram 1374 H (7 September 1954) di Surabaya oleh para ulama NU untuk mewadahi dan mengembangkan pondok pesantren di bawah naungan NU. Awalnya bernama Ittihad Ma'ahid Islami, kemudian diubah menjadi Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) atas usulan K.H. Abdul Wahab Chasbullah. RMI kini menjadi lembaga di bawah PBNU yang mengurusi kebijakan dan pengembangan pesantren di Indonesia. 

Latar belakang dan pendirian

Usulan awal: Gagasan pendirian organisasi tunggal bagi pondok pesantren muncul dari tiga kiai: K.H. A. Sa'doellah, K.H. Achmad Jufri, dan K.H. Achmad Shiddiq Jember.

Perubahan nama: Organisasi ini awalnya bernama Ittihad Ma'ahid Islami (Persatuan Pondok Pesantren Islam), tetapi kemudian diusulkan untuk diubah menjadi Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) oleh K.H. Abdul Wahab Chasbullah.

Pengesahan: Usulan ini diterima baik oleh PBNU, dan RMI secara resmi menjadi bagian dari NU. 

Tanggal dan tokoh penting

Tanggal pendirian: RMI NU resmi berdiri pada 10 Muharram 1374 H atau 7 September 1954 di Surabaya.

Tokoh pendiri: Beberapa tokoh yang berperan penting dalam pendirian RMI NU antara lain K.H. Abdul Wahab Chasbullah, K.H. M. Hasyim Asy'ari, dan K.H. Bisri Syansuri. 

Fungsi dan perkembangan

Fungsi: RMI bertugas untuk melaksanakan kebijakan NU di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan di Indonesia.

Jaringan: Jaringan RMI mencakup sekitar 23.000 pesantren NU di seluruh Indonesia.

Kepemimpinan: RMI memiliki beberapa ketua dari masa ke masa, termasuk K.H. Achmad Siddig, K.H. Mahrus Aly, K.H. Achmad Sjaichu, K.H. Masykur, dan lainnya. 






Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

0 Response to "RMI NU - Sejarah dan Tokoh Penting"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel