KISAH HIKMAH - Mengenal Imam Mazhab: Biografi Abu Hanifah dan Kisah Kewarakannya dan Pembela Aswaja

KISAH HIKMAH - Mengenal Imam Mazhab: Biografi Abu Hanifah dan Kisah Kewarakannya dan Pembela Aswaja  © KISAH HIKMAH - Mengenal Imam Mazhab: Biografi Abu Hanifah dan Kisah Kewarakannya dan Pembela Aswaja - ALHIKMAH.MY.ID Source: https://www.alhikmah.my.id/2022/04/kisah-hikmah.html#gsc.tab=0



KISAH HIKMAH - Mengenal Imam Mazhab: Biografi Abu Hanifah dan Kisah Kewarakannya dan Pembela Aswaja



ABU HANIFAH



Sebuah fakta yang tak pernah luput dicatat dalam banyak kitab sejarah mazhab, bahwa Imam Abu Hanifah adalah akar pangkal transmisi keilmuan hukum Islam (fiqih). Imam Muhammad bin Idris as-Syafi’i termasuk orang pertama yang mengakui ini, dan hingga sekarang pandangan beliau terhadap Abu Hanifah masih sangat terang.

Adalah Syekh Muhammad Abu Zahrah (1898-1974 M) termasuk yang mengabadikan pengakuan as-Syafi’i tersebut. Dalam karyanya Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah (juz 2, hal. 131) ia menulis:



فهو الذي قال فيه الشافعي رضي الله عنه: الناس في الفقه عيال على أبي حنيفة



Artinya, “Suatu ketika, as-Syafi’i pernah memuji Abu Hanifah. Ia berkata, ‘Transmisi keilmuan umat Islam dalam bidang fiqih berinduk kepada Abu Hanifah’.”

Fakta ini nyaris mustahil absen dari memori para santri dan kiai. Ini menjadi bukti bahwa pendiri mazhab Hanafi yang dikenal sebagai pimpinan kaum rasionalis (ahlu ar-ro’yi) itu bukan orang sembarangan. Ia tentu lahir dari keluarga yang tidak biasa di hadapan Allah, dan pasti pernah mengukir jejak perjuangan yang tak remeh. Sehingga, Allah terangi keluarga itu sepanjang masa, mengabadikannya dalam sejarah peradaban Islam dunia.

Biografi Singkat Abu Hanifah



Abu Hanifah, yang bernama asli Nu’man bin Tsabit bin Zutha adalah seorang ulama besar pendiri mazhab Hanafi. Ia termasuk imam mazhab kawakan di antara tiga mazhab muktabar lainnya (mazhab Maliki, mazhab Syafi’i, dan Hanbali). Lahir di kota Kufah, Irak pada tahun 80 H bertepatan dengan tahun 699 M, dan wafat di Baghdad pada 150 H atau tahun 767 M.

Mengutip Muhammad Ali as-Sayyis dalam Tarikh al-Fiqih al-Islami (hal. 104), bahwa sang promotor golongan rasionalis ini, namanya masuk dalam daftar atba’ at-tabi’in (pengikut para tabiin), generasi ketiga setelah Nabi. Sebab, kabarnya ia hanya sempat semasa—walaupun tak lama—dengan empat orang sahabat; Anas bin Malik yang tinggal di Bashrah, Abdullah bin Abi Aufa di Kufah, Sahl bin Sa’ad as-Sa’idi di Madinah, dan sahabat Abu Thufail Amir bin Watsilah di Makkah. Tapi sayang, tak satu pun pernah ditemuinya.

Sedangkan, dalam riwayat lain-kendati tergolong lemah-Abu Hanifah masuk dalam daftar tabiin, santrinya para sahabat Nabi. Karena menurut riwayat ini, ia pernah bertemu dengan sahabat Anas bin Malik, dan meriwayatkan satu hadist tentang kewajiban menuntut ilmu darinya. Ditambah lagi, pada tahun 96 H, Nu’man remaja pernah dibawa ayahnya menunaikan ibadah haji. Saat di Masjidilharam, ia sempat bertemu dengan seorang sahabat bernama Abdullah bin al-Harst bin Juzu’ az-Zabidi, dan berhasil meriwayatkan satu hadist lagi.

Tanah Kufah menjadi tempat tinggal terlama bagi Abu Hanifah. Ia menghabiskan sebagian besar hidupnya di sana. Sebelum masuk ke dunia santri, putra Nu’man ini adalah seorang wiraswasta. Hari-harinya selalu di pasar, membantu sang ayah berjualan sutra. Saat di rumah, ia sibuk memikirkan bagaimana memproduksi kain-kain sutra pilihan. Karena itu, wajar dirinya dikenal sebagai ulama entrepreneur.

Setelah sekian lama menjadi wiraswasta, bahkan sampai menghabiskan separuh masa mudanya, Abu Hanifah pun akhirnya bertolak dari dunia pasar menuju dunia intelektual atas saran seorang ulama bernama as-Sya’bi. Wajar saja bila dia termasuk satu dari sekian ulama yang telat belajar. Namun, hal itu bukan persoalan besar di mata Abu Hanifah. Berkat ketekunan dan kecerdasan yang dimilikinya, mampu mengalahkan orang-orang yang belajar jauh sebelum dirinya. Terkait kisah lengkap Abu Hanifah tentang perpindahan dunianya dari tongkrongan pasar ke halakah ilmiah, akan dibahas di tulisan berikutnya. Insya Allah.

Guru-Guru Abu Hanifah


Setelah memutuskan untuk mengikuti saran as-Sya’bi, meninggalkan hiruk pikuk dunia perdagangan dan mencurahkan lebih banyak simpati kepada para ulama, ‘santri baru’ itu sudah mulai jarang tampak di pasar. Ia mulai menjauh dari kebisingan di tempat itu. Walaupun, sesekali juga menyempatkan diri menyambangi para pelanggan setia dan teman-temannya di sana. Tapi itu bisa dihitung jari. Dalam sepekan, mungkin sekali atau bahkan tidak sama sekali. Kesehariannya sibuk dengan mengaji, menghadiri halakah demi halakah para ulama di Kufah.

Di antara para ulama, tempat simpuh Abu Hanifah mengambil hadist adalah imam ‘Atha’ bin Abi Rabah, imam Nafi’ (mantan budaknya Ibnu Umar), imam Qatadah, dan syekh Hammad bin Abi Sulaiman (tempat mulazamah terlama, selama 18 tahun). Dari syekh Hammad ini pula, ia belajar fiqih secara mendalam dengan transmisi keilmuan yang sampai pada Rasulullah. Sebab, gurunya itu merupakan murid dari Ibrahim al-Nakha’i dan al-Sya’bi, yang mana keduanya adalah santri tiga ulama besar; imam al-Qhadli, Alqamah bin Qais dan Masruq bin Ajda’. Mereka semua belajar fikih kepada Abdullah bin Mas’ud dan Imam Ali bin Abi Thalib, gerbang keilmuan baginda Nabi. Keterangan ini ditulis oleh Muhammad Ali as-Sayyis dalam Tarikh al-Fiqih al-Islami (hal. 104).

Kisah Warak Abu Hanifah



Suatu ketika, Jubarah bin al-Mughallis bercerita tentang dirinya yang pernah mendengar Qais bin ar-Rabi’ memuji Abu Hanifah. Qais berkata:

كان أبو حنيفة ورعا تقيا مفضلا على إخوانه

Artinya, “Abu Hanifah adalah seorang amat warak dan benar-benar taat beragama, ia juga gemar menebar kebaikan kepada sesama.”

Sebenarnya, ada banyak pengakuan serupa terkait kewarakan imam Nu’man bin Tsabit. Pengakuan itu juga muncul dari orang-orang elit, sekelas imam as-Syafi’i, imam Malik dan seterusnya. Belum lagi pengakuan yang muncul dari para murid dekatnya; orang-orang yang langsung mengaji, satu majelis dengan Abu Hanifah. Seperti imam Abu Yusuf al-Hanafi (wafat 183 H) dan Muhammad bin al-Hasan as-Syaibani (wafat 198 H).



Di antara kisah kewarakan Abu Hanifah yang ditulis imam al-Hafidh Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman ad-Dzahabi (wafat 748 H) dalam bukunya Manaqib al-Imam Abi Hanifah wa Shahibaihi; Abu Yusuf wa Muhammad bin al-Hasan (hal. 41), yaitu saat Abu Hanifah menyedekahkan hasil penjualan baju yang dinilainya syubhat. Suatu ketika, ulama yang juga entrepreneur itu menyuruh salah seorang partner bisnisnya yang bernama Hafsh untuk menjual baju komoditas miliknya. Tapi sayang, barang yang hendak dijual itu tidak utuh, terdapat cacat pada bagian baju tersebut. Karena itu, Abu Hanifah berpesan:


إنّ في ثوب كذا عيبا فإذا بعته فَبَيِّن



Artinya, “Di baju ini terdapat cacat, kalau ada yang ingin membelinya, beritahulah dahulu di mana bagian cacatnya.”

Namun sialnya, Hafsh ini malah lupa pesan Abu Hanifah. Ia langsung menjual baju itu tanpa menunjukkan celanya. Sedangkan, untuk menemukan si pembeli tadi sudah tidak mungkin. Bayangkan saja, di tengah pasar yang sangat ramai, dipadati orang-orang tak dikenal datang dari segala penjuru. Mengetahui hal itu, Abu Hanifah langsung menyedekahkan uang hasil penjualan baju tersebut. Kerennya, ia tidak marah atas keteledoran itu. Jangankan sampai marah, komentar pun tidak. Malahan, Abu Hanifah menyikapinya dengan senyum ramah. Sungguh luar biasa, ia mampu meneladani akhlak baginda Nabi.


Imam Abu Hanifah Pembela Aswaja yang Dagang Sutra di Pasar .



Harus diakui, Abu Hanifah adalah sosok orang yang genius dan multitalenta. Ia tidak hanya mampu mengurusi satu hal saja. Tetapi bisa menjalankan dua hal dalam waktu yang bersamaan. Ia mampu membagi fokus secara serius untuk dua hal berbeda. Hasilnya pun tak biasa-biasa saja, sungguh sebuah pencapaian yang maksimal. Benar sekali firasat yang dirasakan imam as-Sya’bi tentang kecerdasan Abu Hanifah saat pertama kali bertemu di sebuah jalan yang biasa dilalui orang-orang pasar. Tak banyak orang dengan kecerdasan, kegeniusan, dan multitalen seperti Abu Hanifah. Terbukti, saat remaja, Imam Nu’man ini mampu menggawangi peran ganda; sebagai argumentator aqidah Aswaja, sekaligus pedagang sutra. Ini pekerjaan yang tak mudah. Karena fokusnya jauh berbeda. Jika satu sisi sebagai pendakwah dan di sisi lain sebagai penulis, maka masih linier alias sejalur. Terlebih lagi, di masa Abu Hanifah tak sama dengan sekarang.  Para pendakwah, pelajar, ataupun tenaga pengajar kita saat ini, tak terlalu sulit menggabungkan profesinya itu dengan berbisnis. Sebab, ia bisa berpenghasilan melalui Youtube, jualan melalui Instagram dan facebook, mereka juga bisa sambil buka toko online di market place. Sedangkan Abu Hanifah, jam terbang pasar dengan dakwahnya bertaut jauh tanpa media-media online seperti saat ini. Jam Terbang Abu Hanifah Membela Akidah Aswaja Sejak kali pertama Abu Hanifah mendedikasikan dirinya untuk ilmu, ia mencurahkan fokusnya lebih banyak mempelajari dan mengkaji ilmu kalam. Gairah remajanya yang gemar berdebat itu muncul tak terbendung. Kabarnya, Abu Hanifah tak hanya berdebat dan mengkritisi paham-paham Mu’tazilah dan Khawarij di tanah kelahirannya, di Kufah. Tetapi juga memiliki jam terbang sampai ke kota Bashrah, di mana jarak antara keduanya kurang lebih mencapai 434 km.  Agar lebih riil, coba kita bandingkan dengan jarak antara Situbondo-Surabaya. Dari Situbondo ke Surabaya, jaraknya kira-kira 200 km. Berarti, bisa dibayangkan jarak antara Kufah dan Bashrah, dua kali lipat Situbondo-Surabaya. Sekarang, berkat kemajuan transportasi, waktu tempuh maksimal dari kota santri menuju kota metropolitan, sekitar enam jam perjalanan tanpa melalui tol. Bisa lebih cepat jika masuk ke gerbang tol. Sedangkan Abu Hanifah, mengisi jam terbangnya ke Bashrah menggunakan jasa tumpangan hewan. Menumpang kepada kafilah-kafilah yang bolak-balik antara Kufah dan Bashrah itu. Lumayan berat perjuangannya. Syekh Muhammad Abu Zahrah dalam Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah (juz 2, hal. 133) bercerita:

ويقوم بالرحلات المختلفة إلى البصرة ليجادل المعتزلة ويتعلم ما عندهم ويجادل الخوارج ويتعرف فكرهم وهكذا إستمر يتعرف ما عند الفرق المختلفة

Artinya, “Abu Hanifah menuju Bashrah dengan menumpang kepada pelbagai kafilah yang ada guna berdebat dengan Mu’tazilah dan Khawarij, seraya mempelajari dasar teologi dan pemikiran mereka. Begitulah seterusnya  ia aktif mendebati aliran demi aliran yang berbeda dengan Ahlussunnah wal Jamaah.” Bisa dibilang, Abu Hanifah adalah singa podium Aswaja di masanya. Namun, lambat laun, ia kembali mendapat hidayah. Ia merasa dirinya tidak berada di jalan yang benar seperti yang diajarkan para tabiin dan sahabat Nabi. Sebab, hari-harinya penuh debat dan sikap menyalahkan orang lain. Akhirnya, imam Nu’man pun alih fokus ke halakah dan kajian fiqih, menjauh dari perdebatan teologi. Baginya, kendati dalam fiqih juga banyak perdebatan, tetapi semuanya bernuansa kasih-sayang. Perdebatan fiqih adalah jalan keluar dari kesulitan umat. Beda dengan teologi yang perdebatannya adalah keresahan bagi mereka. Abu Hanifah Tetap sebagai Entrepreneur Walau Abu Hanifah telah lama menjauhi dunia pasar dan sibuk dengan dunia barunya di kalangan para santri dan kiai, tapi tak berarti ia benar-benar gulung tikar dari bisnis sutranya. Dirinya tak serta-merta menghilangkan peninggalan mendiang sang ayah. Ia terus melanjutkan profesinya sebagai entrepreneur dengan manajemen pasar yang lebih profesional lagi, yaitu dengan menjalin kerja sama dengan para pedagang yang lain. Baik melalui akad wakalah atau agency (mewakilkan penjualan komoditasnya), maupun dengan membangun mitra kerja (musyarakah atau partnership). Mengingat, jam belajarnya yang semakin hari semakin padat. Masih dalam Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah (juz 2, hal. 137), Abu Zahrah menulis:

ولما إتجه إلى العلم لم ينقطع عنها بل إستمر في التجارة بنائب ينيبه أو شريك يشاركه وكان مشتركا في التجارة بقدر لا يقطعه عن العلم إذ إنصرف إليه في أكثر أحواله حتى كاد التاريخ ينسى التجارة التي إستمر فيها

Artinya, “Hijrah Abu Hanifah ke halakah intelektual tak lantas membuatnya meninggalkan usaha sutra yang dibangun ayahnya. Usahanya tetap berjalan di tangan para pekerjanya. Ia tetap fokus sebagai manajer bisnis tersebut. Sebab, ia tak punya waktu sebagai pelaku langsung, menjajakkan barang-barangnya. Sebagian besar waktunya dihabiskan di hadapan para ulama. Sampai-sampai, nyaris sejarah melupakan jejak entrepreneur Abu Hanifah.” Benar, nyaris sejarah melupakan jejak dagang imam Nu’man. Untung saja beberapa sejarawan meneliti dan mencatatnya. Walaupun tidak terlalu rapi, kalah dengan karir dan popularitasnya sebagai ulama pendiri Mazhab Hanafi. Berkah catatan sejarah yang sederhana itu, semua orang yang bergelut di dunia bisnis yang mengenal Abu Hanifah, pasti menjadikannya tokoh panutan dalam karirnya. Bahkan, banyak buku-buku entrepreneurship yang mengulas sejarah dagang Abu Hanifah.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Wallahu a’lam bisshawab."

TAG :

#ALHIKMAH

#WEBSITE

#IMAGE

#ISLAMI

#AWDEV


SCORE : 

https://www.alhikmah.my.id/

PULICATION :

ALHIKMAH.MY.ID,ALHIKMAH.EU.ORG,AWDEV.EU.ORG,WEB.ALHIMAH.EU.ORG,DEVOLOPER.ADEV.EU.ORG,WAHYU9KDL.GITHUB.IO



Connect with me:

san3 wahyu9kdl awfanspage https://www.linkedin.com/in/ahmad-wahyudi-41b6841b6 awgroupchannel awfanspage wahyu9kdl wahyu9kdl aw youtube channel http://feedproxy.google.com/~r/blogspot/ghpgr/~3/vyr1fhc7dbi/informasi-cara-mendapatkan-ribuan.html  Logo Logo Logo ALHIKMAH.MY.ID


Admin

AL HIKMAH

Follow My Blog

DMCA.com Protection Status

© ALHIKMAH.MY.ID
Source: https://www.alhikmah.my.id/


KISAH HIKMAH - Mengenal Imam Mazhab: Biografi Abu Hanifah dan Kisah Kewarakannya dan Pembela Aswaja

© KISAH HIKMAH - Mengenal Imam Mazhab: Biografi Abu Hanifah dan Kisah Kewarakannya dan Pembela Aswaja - ALHIKMAH.MY.ID
Source: https://www.alhikmah.my.id/2022/04/kisah-hikmah.html#gsc.tab=0


Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

0 Response to "KISAH HIKMAH - Mengenal Imam Mazhab: Biografi Abu Hanifah dan Kisah Kewarakannya dan Pembela Aswaja"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel